<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199</id><updated>2011-07-08T06:17:40.225+07:00</updated><title type='text'>Life University</title><subtitle type='html'>Situs ini menyajikan artikel-artikel tentang personal development untuk mengenal potensi dan kemampuan diri, menemukan minat dan mencapai tujuan hidup untuk mencapai sukses yang optimal dalam "Universitas Kehidupan".</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116529293393063257</id><published>2006-12-05T11:26:00.000+07:00</published><updated>2006-12-05T11:29:00.516+07:00</updated><title type='text'>Efektif Leadership, Memimpin dengan EQ</title><content type='html'>Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPEMIMPINAN selalu menjadi isu sentral di mana pun baik di organisasi, bisnis maupun perusahaan. Harga kepemimpinan menjadi sangat mahal untuk mengubah satu kondisi menuju kondisi yang jauh lebih baik. Tapi dalam kenyataannya, tidak semua pemimpin dapat mengemban misi kepemimpinannya. Malahan yang muncul adalah tirani baru yang mencengkeram anak buahnya dan memaksakan segala kehendaknya tanpa acuan prinsip yang jelas. Tidak heran apabila yang muncul adalah kefrustrasian karyawan menghadapi ulah para pemimpin yang semau gue, tidak mau tahu dengan urusan karyawan dan lebih parah lagi kesannya hanya memeras keringat karyawan tanpa mau memperhatikan nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat bahwa pemimpin-pemimpin besar bukanlah mereka yang duduk santai di belakang meja, angkat jari tinggi-tinggi, tunjuk sana tunjuk sini dan melampiaskan kemarahan apabila hal yang terjadi di luar harapannya. Nabi Muhammad yang disebut sebagai pemimpin luar biasa, dia adalah orang yang rendah hati, memiliki moral yang tinggi, selalu santun kepada kawan maupun lawan, selalu belajar dan selalu mengevaluasi diri. Tapi bila melihat kemunkaran, kelalaian dan sesuatu yang ganjil, dia akan tegas untuk menegur bahkan sampai menghukum. Tapi bentuk ketegasannya tidak dalam kemarahan, tidak dengan mencak-mencak. Ia tetap tegas tetapi dibalut dengan kelembutan. Bukankah tali yang kuat adalah tali yang lentur, bukan tali yang kaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin-pemimpin besar lainnya juga memiliki watak yang sama, tapi bila disederhanakan beberapa ciri pemimpin besar adalah; memiliki kecerdasan emosi, memiliki integritas, selalu belajar menambah ilmu pengetahuan, memiliki pola komunikasi interpersonal yang luwes, rendah hati, memiliki visi jauh ke depan, memiliki prinsip yang kuat dan teguh, mampu mempengaruhi pikiran orang lain, menerima kritikan dan masukan dari siapapun, selalu positif thinking, tidak pernah menyalahkan orang lain, selalu mendidik anak buahnya agar tumbuh menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Apa itu kecerdasan emosi? Apakah dalam dunia kerja emosi perlu dibawa? Dari jaman dulu sampai sekarang faktor emosi menjadi bagian dari manusia sangat besar yang dapat menentukan ke mana arah langkah seseorang. IQ memang diperlukan, tapi IQ bukan satu-satunya perkara yang bisa menjamin kesuksesan. Contoh sederhana, seseorang yang memiliki IQ tinggi dengan indikator nilai Matematika tinggi, 9 misalnya, nilai statistik tinggi, Bahasa Inggris tinggi, IPK 3,5. Setelah terjun ke dunia kerja apakah nilai yang tinggi tersebut bisa dijadikan modal satu-satunya untuk meningkatkan prestasi perusahaan? Pengalaman membuktikan, mahasiwa yang memiliki nilai tinggi tanpa dibekali dengan kadar emosi yang cukup, mereka gagal dalam dunia kerja. Apakah mereka berantem terus dengan bosnya, pindah-pindah kerja dari satu tempat ke tempat yang lain karena tidak cocok dengan teman-temannya dan hal-hal lain yang memungkinkan orang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru karena merasa dirinya jauh lebih pintar dari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sisi lain, mereka yang memiliki IPK sedang-sedang saja, tapi luwes dalam bergaul, memahami kebutuhan orang lain, memberikan perhatian kepada teman-temannya yang sedang ada masalah, mereka jauh lebih sukses dan berhasil baik dalam karier maupun dalam mentalnya. Ini perbedaan IQ dengan EQ dapat dilihat secara mencolok dari hasil kerja pikiran mereka. Demikian halnya dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menggunakan pendekatan kecerdasan emosi (EQ) akan menghasilkan kinerja jauh lebih baik ketimbang pemimpin yang hanya menggunakan pendekatan IQ. Coba bedakan, pemimpin yang menggunakan kecerdasan emosi, pola pikirnya dimulai dari melihat karyawan sebagai asset dan bagian yang penting untuk masa depan perusahaan. Apabila karyawan bebas dari masalah, selalu termotivasi, diperhatikan kebutuhan dasarnya, maka mereka dengan sendirinya akan maksimal dalam bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan atau laba pada dasarnya hanya merupakan akibat dari karyawan yang memiliki semangat tinggi, tidak ada masalah pribadi dibawa ke kantor dan mereka terus belajar untuk melihat peluang pasar di depan matanya. Jadi, kalau mau untung, kalau mau sukses, peliharalah orang-orang di dalam terlebih dahulu. Mulai dari mutu customer servis agar pelanggan puas, memelihara kualitas produk, membina pelanggan dengan pendekatan tertentu sehingga mereka merasa dekat dengan perusahaan kita. Di sini ada beberapa hal yang harus terus menerus diperhatikan mulai dari kondisi karyawan, kualitas produk, memelihara pelanggan dan melakukan komunikasi yang kondusif dengan pelanggan. Satu hal lagi ketika bisnis sudah mulai sangat kompetitif, harus selalu kreatif menciptakan produk baru agar pelanggan tetap mencari produk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauhmana perusahaan memperhatikan karyawan? Lebih spesifik lagi, sejauhmana pemimpin memperlakukan karyawan? Karyawan juga manusia memiliki masalah, keluh kesah dan persoalan hidup sehari-hari. Ketika pemimpin tidak mau tahu terhadap persoalan karyawannya, jangan menyesal kalau terjadi turn over yang cukup tinggi di perusahaan tersebut. Pemimpin harus mampu menempatkan diri sesuai dengan situasi yang tepat. Kadang bersikap sebagai seorang manager, kadang bersikap sebagai seorang bapak kepada anaknya, kadang bersikap sebagai teman atau sahabat, kadang bersikap sebagai konsultan, kadang bersikap sebagai juru therapis yang mengobati pasiennya. Pemimpin tidak bisa bersikap seperti raja yang duduk manis didampingi dayang-dayang yang selalu mengipas-ngipas dirinya, tidak pernah turun ke lapangan, dan titahnya harus dituruti, peduli apakah titahnya itu logis atau tidak, penting atau tidak. “Saya kan raja, jadi anda harus nurut.” Kepemimpinan model ini sama sekali tidak akan laku di pasaran. Mungkin anak buah menuruti perintahanya, tapi landasannya karena takut dan terpaksa, bukan karena senang melakukannya. Dan sebentar lagi mereka akan keluar dari perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin harus mampu mengelola emosi karyawannya. Satu waktu berikan pujian kalau karyawan melakukan berprestasi. Jangan sungkan-sungkan untuk mengatakan “Bagus, anda melakukan tugas secara baik, lanjutkan di masa-masa mendatang.” Jangan sampai terjadi, ketika salah didamprat habis-habisan sampai semaput, ketika berprestasi malahan tidak disapa sedikit pun. Ini kan tidak fair memperhatikan anak buah atau karyawan hanya ketika mereka melakukan kesalahan saja. Kalau karyawan melakukan kesalahan, jangan ditegur di tengah-tengah forum yang dilihat banyak orang. Tarik ke dalam, bicara empat mata, kalaupun mau mengkritik habis, marah atau apapun, lakukan di sana. Sehingga harga dirinya tetap terjaga. Kalau ditegur dan dimarahi di tengah-tengah karyawan lain, siapapun akan menanggung rasa malu yang sangat besar, sementara mungkin tingkat kesalahannya tidak seimbang dengan tingkat kemarahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memimpin manusia memang memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Terlalu keras dalam memperlakukan karyawan, mereka tidak bisa menerima, terlalu lembut dalam pengertian tidak tegas pun akan tidak berwibawa dan tidak dihargai. Namun selama ini pendekatan kepemimpinan melalui pendekatan emosi jauh lebih efektif karena kita melihat orang dari kacamata yang holistik. Ini memang ujian kepemimpinan, banyak orang yang pandai dan berpengalaman di mana-mana, tapi ternyata gagal dalam memimpin manusia di bawah naungannya sendiri atau karyawannya sendiri. Sampai di sini apakah kita masih bersikeras untuk memperlakukan karyawan, anak buah atau staf organisasi dengan cara-cara yang kaku, hitam putih? Atau kita berpikir ulang untuk bersikap jauh lebih luwes dalam memperlakukan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ken Blanchard dalam Self Leadership membagi sikap seorang leader ke dalam empat kategori ketika melihat karyawan dan situasi yang berbeda-beda. Yang pertama kondisi emergency, pemimpin harus mengarahkan atau memerintah. Misalnya saja, terjadi kebakaran di sebuah tempat, pemimpin yang bersangkutan benar-benar harus memberikan instruksi secara jelas, tegas, bahkan cenderung otoriter, tidak ada usul atau bantahan. Dan sebaliknya anak buah pun harus mengerti kondisi sehingga si pemimpin bersikap demikian. Masa sih dalam situasi yang gawat seperti kebakaran masih ada perdebatan sengit untuk membiarkan kebakaran menjalar atau secepatnya mengatasi kebakaran. Sudah tentu target yang harus dilakukan adalah segera menghentikan kebakaran tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua melatih. Latihan diberikan kepada karyawan yang memiliki kemampuan sedang dan komitmen rendah. Sehingga dalam kurun waktu tertentu memiliki pengetahuan dan komitmen yang meningkat. Ketiga mendukung. Ini diberlakukan kepada karyawan yang kemampuan tinggi tapi komitmen tidak menentu. Dalam beberapa kasus pemimpin banyak melakukan proses latihan dan mendukung. Sehingga karyawan mendapatkan pengetahuan baru dan langsung dicoba. Sementara yang keempat adalah menugaskan atau mendelegasikan kerja. Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki kemampuan tinggi dan komitmen yang tinggi pula. Karyawan jenis ini sudah memiliki kesadaran sendiri sekaligus kemampuan untuk mengemban tanggungjawab secara penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau polanya demikian, masih ragukah untuk menerapkan kepemimpinan dengan pendekatan kecerdasan emosi (EQ)? Mungkin perlu dicoba dulu, tapi sebelum dicoba, pemimpin harus memiliki bekal yang utuh tentang kecerdasan emosi, jangan hanya menerapkan sepotong-sepotong. Buku-buku Daniel Goleman yang berisi tentang EQ, Ary Ginanjar ESQ dapat menjadi rujukan bagaimana cara memimpin dengan kecerdasan emosi. Semoga di masa mendatang lahir pemimpin-pemimpin baru yang memiliki kepekaan emosi yang jauh lebih tinggi untuk meningkatkan mutu karyawan dan meningkatkan profit perusahaan. Semoga (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Banyumas, menekuni NLP, Hypnotherapy dan Mind Technology for Ultimate Sucess.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116529293393063257?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116529293393063257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116529293393063257' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116529293393063257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116529293393063257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/12/efektif-leadership-memimpin-dengan-eq.html' title='Efektif Leadership, Memimpin dengan EQ'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116010907464879721</id><published>2006-10-06T11:29:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T11:31:14.866+07:00</updated><title type='text'>Mendapat Keajaiban Karena Taat Kepada Orangtua</title><content type='html'>Oleh A. ASEP SYARIFUDDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBUKU adalah seseorang yang memiliki fisik yang lemah. Entah apa yang menjadikannya demikian. Tapi seingatku dia adalah orang yang mudah stress apabila menghadapi persoalan hidup. Ayahku hanyalah pegawai negeri golongan kecil, tidak heran kalau gaji sebulan sudah habis pada tanggal 10 setiap bulannya. Buntutnya, utang di koperasi di tempat kantor ayahku kian hari kian membengkak. Dan uang gaji yang sampai kepada ibuku tidak cukup menutupi kebutuhan satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keluargaku ada tiga bersaudara, kakakku, aku dan adikku. Semuanya laki-laki. Tidak heran kalau terjadi perbedaan pendapat berujung adu mulut. Di sini ibuku sering menangis karena tidak siap melihat anak-anaknya berantem. Padahal dalam kacamataku, itu adalah persoalan yang wajar yang terjadi pada anak-anak. Lepas dari semua itu, aku ingin meringankan beban mental ibuku yang dirasa cukup berat. Sebagaian porsi pekerjaan ibuku mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mencari kayu bakar aku hendel. Ketika itu usiaku baru berumur 12 tahun atau kelas 6 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi setelah bangun subuh kubawa cucian ke sungai. Di sana sudah ada tetangga-tetangga yang semuanya adalah ibu-ibu. Awalnya mereka meledek dan mengolok-olok dengan ungkapan-ungkapan sinis. “Laki-laki kok mencuci baju keluarga, isterinya ke mana, melahirkan ya?” Tapi semua ledekan dan olok-olok itu tidak kupedulikan sampai akhirnya mereka berhenti mengolok-olok. Bahkan sebagian di antara mereka memberikan tanggapan positif karena walaupun laki-laki tapi mau membantu ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan tersebut kulakukan sampai aku kuliah. Bahkan aku sempat mendaftar ke sebuah perguruan tinggi di Bandung lewat PMDK, tapi akhirnya gagal. Bagaimana tanggapan ibuku? Dia malah bersyukur atas kegagalan tersebut. Dia bilang, “Kalau kamu tidak ada di sini beban ibu sangat berat, tidak ada yang membantu.” Aku terimaa semua itu sebagai sesuatu yang terbaik untukku. Karena aku pun tidak akan merasa tenang apabila jauh dari orang tua sementara ibuku secara lahiriah terlihat sangat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prinsipku, apapun yang dikatakan oleh ibuku adalah sesuatu yang mutlak. Entahlah, secara psikologis aku sangat yakin bahwa kata-kata ibu adalah benar adanya, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Sampai-sampai ketika aku menaksir seorang cewek dan aku bilang kepada ibuku, dia berkata, mau belajar apa mau pacaran. Dengan berat hati aku urungkan niat untuk dekat dengan lawan jenis. Tidak heran kalau teman-temanku di SMA memberiku gelar anak mama. Ah betapa malunya aku di depan teman-temanku, tapi lagi-lagi semua ledekan tersebut kutelan dan tidak kupedulikan karena prinsip nasihat ibu adalah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam-malam yang sepi menjelang pagi, ibuku selalu membangunkanku untuk shalat malam. Merupakan pengalaman batin yang tidak pernah terlupakan. Kadang aku bersama ibuku menangis berdua, saat itu doa yang  keluar sangat minimal, ingin diberikan jalan keluar dari himpitan hidup yang terasa sangat berat terutama keluar dari persoalan ekonomi. Tadarus Al Quran pun menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan setiap hari. Memang ada kebahagiaan yang menggema di dalam batinku sehabis menjalankan shalat tahajud tersebut. Hari-hari terasa sangat indah, seisi alam seolah memberikan dukungan moral dan spiritual. Hidup terasa penuh makna. Aku memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, siapa saja yang menjalankan shalat malam secara rutin dan menjadi kebiasaan sehari-hari, maka akan diberi jalan keluar dari berbagi persoalan hidup, sesulit apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah, aku tidak terlalu pandai. IQ ku tidak terlalu cerdas, tapi aku cukup rajin dan ulet dalam belajar. Itupun atas saran dari ibuku yang selalu mengatakan, bahwa kalau ingin sukses di masa yang akan datang maka ilmu pengetahuan adalah rajanya. Kamu akan mendapatkan apapun dari ilmu pengetahuan di masa yang akan datang, tapi jangan lupa agama tetap menjadi fondasi hidup supaya tdak terjebak oleh kesombongan dan merasa diri paling hebat. Camkan itu anakku. Kata-kata itulah yang masih terngiang di dalam telinga dan hatiku dan aku berusaha untuk tetap konsisten menjalankan nasihat-nasihat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak usia 27 tahun, tahun 1999 bulan Desember, setelah satu bulan aku menikah, H-1 Ramadhan, aku harus berpisah dengan ibuku untuk selama-lamanya. Bumi terasa berhenti bergerak, alam terasa diam, hati berontak dan protes kepada Allah Yang Maha Kuasa. Mengapa dia yang selalu membimbingku, memberiku inspirasi, memberiku jalan hidup, memberiku semangat harus meninggalkanku untuk selama-lamanya? Kumandikan, kukafani, kusisiri, kusolatkan berjamaah dengan yang lain dan kuantar sampai ke liang kubur. Ada perasaan yang menyayat di dalam hati, siapakah yang akan menjadi pengganti ibuku, apakah aku sudah siap menghadapi kehidupan ini yang terjal, berliku penuh duri dan bebatuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu minggu sejak kematian ibuku aku cepat menyadari siklus kehidupan yang senantiasa berubah, berjalan terus. Dan satu hal, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami maut, termasuk diriku sendiri entah kapan. Tapi satu hal yang tidak pernah kulupakan dari ibuku, shalat malam setiap hari, belajar setiap saat, kelak engkau akan memiliki derajat yang tinggi. Ya, itulah mutiara yang sangat berharga yang diberikan ibuku, yang senantiasa menjadi panduan dan bekal hidup ke manapun aku pergi. Tidak mudah memang menghadapi hidup sendiri, banyak hal yang sebelumnya tidak diperhitungkan kemudian datang dengan tiba-tiba. Ternyata dunia ini sangat tidak bersahabat bagi yang tidak siap menghadapinya. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing bahkan nyaris perkawanan menjadi sangat rapuh akibat kepentingan pribadi yang terlalu menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku tinggal bersama istriku dan seorang anakku di sebuah kota di Jawa Tengah. Dari kota kelahiranku di Jawa Barat menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Tidak ada kerabat, tidak ada saudara tidak ada teman dekat yang sudah dikenal sejak awal. Tapi dari hari-ke hari aku merasa ada sesuatu yang senantiasa mensupport hidup ini. Pekerjaanku memang masih seorang karyawan, tapi lumayan menjadi top manajemen di sebuah perusahan swasta. Memang tidak semudah itu untuk mencapai posisi tadi, dan bukannya tanpa persoalan. Berbekal nasihat yang terus terngiang dari seorang ibu yang hanya lulus SD, tapi itu adalah bekal yang dapat menembus belantara kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku menyadari semua nasihat yang disampaikan ibuku waktu aku kecil. Aku terus mengingat perjalanan tersebut hingga kini sampai ke pernik-pernik kisah baik yang manis maupun yang pahit. Sampai menangis bersama adik dan kakakku pun masih tergambar jelas dalam benak. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kalau aku tidak memiliki bekal spiritual yang cukup, kalau aku tidak memaksakan diri untuk kuliah sampai selesai walaupun dengan biaya yang tersendat-sendat, kalau aku tidak memiliki prinsip hidup dari ibuku, entahlah sekarang menjadi apa. Mungkin aku menjadi orang yang tidak berguna atau mungkin aku masih bingung menghadapi beratnya hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, terimakasih atas anugerahmu, terimakasih atas segala petunjukmu, terimakasih Engkau telah memberikan nilai-nilai hidup lewat ibuku. Semua itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi diriku dan masa depanku, serta masa depan bangsa ini. Tanpa idzin-Mu, aku tidak akan seperti sekarang ini. Berikanlah rahmat tersebut kepada kami dan keluarga kami serta sahabat-sahabat muslim lainnya. Semoga, kami menjadi kelompok orang-orang yang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Ini memang bukan sesuatu yang terbaik, tapi paling tidak dapat menjadi refleksi, inspirasi bagi yang membaca. Hanya hidayah Allah lah yang membuat pengalaman seseorang menjadi inspirasi untuk menjalankannya. Amin. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116010907464879721?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116010907464879721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116010907464879721' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010907464879721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010907464879721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/10/mendapat-keajaiban-karena-taat-kepada.html' title='Mendapat Keajaiban Karena Taat Kepada Orangtua'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116010345472476982</id><published>2006-10-06T09:55:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T09:57:34.840+07:00</updated><title type='text'>Meraih Sukses di Negeri Paman Sam</title><content type='html'>Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku       : Rahasia Sukses Terbesar&lt;br /&gt;Penulis              : Jennie S. Bev&lt;br /&gt;Editor               : Edy Zaqeus&lt;br /&gt;Penerbit            : Bonrich Publishing, September 2006&lt;br /&gt;Tebal                : 150 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU tentang kisah sukses maupun tips sukses merupakan buku yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia sekarang ini. Mengapa demikian, karena kondisi masyarakat Indonesia sampai kini masih sangat memprihatinkan terutama dalam mindset dan motivasi. Tidak heran apabila tingkat pengangguran masih tinggi, kriminalitas ada di mana-mana dan orang frustrasi jumlahnya kian banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PR cukup besar sekarang ini adalah mengobati masyarakat kita dengan berbagai macam cara. Cara yang paling ampuh adalah memberikan cara pandang baru kepada masyarakat tentang betapa hebatnya diri kita untuk meraih apapun yang kita inginkan. Jangankan  hanya bercita-cita menjadi pegawai negeri atau pengusaha sukses, lebih dari itu pun bisa diwujudkan, asalkan memiliki pengetahuan yang cukup, kegigihan yang tinggi, kerja keras tiada mengenal waktu dan optisme serta semangat yang membara untuk mencapai cita-cita tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jennie S. Bev adalah salah satunya orang yang memiliki semangat semangat yang powerful dan visi yang jauh ke depan. “Hanya” bermodalkan pendidikan kesarjanaanya yang diraih di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, plus biaya hidup satu tahun, dia bersama suaminya nekat pergi ke Negara Paman Sam yang penuh dengan onak dan duri. Hebatnya lagi, dia tidak mau kembali ke tanah air, tapi benar-benar membuktikan prinsip-prinsipnya yang selama ini dimiliki sampai membuat dunai terutama warga Indonesia terperangah, betapa hebatnya seorang Jennie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak perubahan dalam diri Jennie sewaktu dia baru saja ke Kalifornia Utara dan sekarang. Dulu dia sama dengan kita, modal seadanya, memiliki keinginan yang kuat. Tapi Jennie sekarang sudah bertambah bahkan investasi kepercayaan dirinya semakin besar dan menggelora. Dia bahkan memiliki perusahaan yang semua anak buahnya adalah bule dari Amerika. Ironis kan. Di sini kita sangat menyanjung-nyanjung bule dan dianggapnya orang yang datang dari Barat semuanya pintar dan cerdas. Sementara Jennie membalikan semua itu di depan mata kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Jennie bisa, pengalaman-pengalaman suksesnya dibuktikan secara nyata, kita pun memiliki kesempatan yang sama. Kalau ingin lebih cepat untuk sukses, tanya saja orang yang sudah sukses. Ini artinya, dengan membaca buku ini sama halnya dengan bertanya kepada orangnya. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang dimuat di pembelajar.com. Isinya memang pengalaman-pengalaman serta refleksi penulisnya ketika menghadapi tantangan  hidup di sana. Jennie memang membuat orang lain “iri” kepada dia. Siapa yang akan menyusul kesuksesan Jennie?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang untuk meraih sukses tidak mesti ke negeri orang, tapi perlu diketahui, semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin besar pula kerja keras yang harus dilakukan untuk memecahkan semua persoalan yang dihadapi. Negeri senyaman Indonesia tidak terlalu kondusif untuk menciptakan tantangan, kecuali memang tantangan tersebut dibuat oleh diri kita sendiri. Selamat membaca. (a asep sy)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116010345472476982?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116010345472476982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116010345472476982' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010345472476982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010345472476982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/10/meraih-sukses-di-negeri-paman-sam.html' title='Meraih Sukses di Negeri Paman Sam'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116010264607018614</id><published>2006-10-06T09:41:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T09:44:06.153+07:00</updated><title type='text'>Membangun Profit Berkesinambungan dalam Bisnis</title><content type='html'>Oleh A. Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perusahaan, sekecil apapun memiliki peluang untuk mencapai profit maksimal sesuai dengan range yang ada. Ini artinya, siapapun yang memiliki perusahan untuk mendapatkan laba yang terus berkembang bukan merupakan sesuatu yang impossible. Asalkan dikelola dengan cara yang professional, dipimpin oleh leader yang handal (bukan Manager), maka perusahaan tersebut dapat didorong ke arah perbaikan dan kesuksesan setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tahapan untuk membangun perusahaan yang memiliki kredibilitas, dipercaya publik dan akhirnya menuai laba yang naik terus menerus. Pertama, miliki visi dan misi yang jelas perusahaan tersebut mau dibawa ke mana. Apa nilai penting dari perusahaan tersebut yang paling penting untuk disumbangkan kepada konsumen, sehingga konsumen memiliki add value and differentation value apabila menggunakan produk kita. Visi dan Misi juga dibuat sebagai navigator bagi internal karyawan, mulai dari direktur sampai office boy harus memahami sedalam-dalamnya. Ary Ginandjar, penulis buku ESQ, sebelum menjadi traner, dia adalah Manager Grapari di Bali. Dia memilih anak buah yang jauh lebih mudah darinya. Mereka memiliki semangat yang tinggi namun keterampilan dan keahliannya masih rendah. Untuk membangun kultur, Ary mewajibkan anak buahnya untuk berkumpul setengah jam sebelum jam kerja, ia memberikan motivasi dan visi serta semangat kepada karyawannya. Hasilnya luar biasa, mereka bangkit dengan semangat yang tinggi, siap berkompetisi dan memiliki daya juang yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membangun visi dan misi selanjutnya adalah memperkuat peran dan posisi leader. Mengapa leader, karena baik dan buruknya sebuah perusahaan sangat bergantung kepada integritas, kondisi emosi, kredibilitas, kapabilitas dan kompetensi seorang leader. Siapapun boleh disalahkan, tapi ujung-ujungnya sang leader yang mesti bertanggungjawab kepada perusahaan untuk melakukan proses mentor dan coaching secara terus menerus kepada bawahan-bawahannya mulai dari manager-manager sampai kepada karyawan-karyawan lainnya. Ini merupakan proses belajar yang harus terus menerus dilakukan sampai diyakini para managernya sudah memiliki kemampuan dan tanggungjawab serta visi yang sama dengan visi leadernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader yang baik adalah yang memiliki waktu di lapangan 70% dan waktu di kantor 30%. Mengapa demikian, karena seorang leader harus mengetahui persoalan seluruh anak buahnya. Leader yang baik adalah leader yang hadir bersama dengan para karyawannya setiap saat. Berikan penjelasan, keterangan, rahasia berkomunikasi dan membangun relasi yang simpatik, dan mengajarkan seluruh keterampilan dalam berbisnis. Dampingi mereka bertemu dengan para klien, selain bisa mementor, juga si leader bisa mengetahui secara langsung persoalan di lapangan. Tidak ada istilah laporan asal bapak senang (ABS) ank buah kepada pimpinanannya karena leader mengetahui persoalan sejelas-jelasnya di lapangan. Dengan demikian leader yang mengetahui persoalan lapangan akan mengetahui secara persis persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan, sehingga solusinya pun bisa diberikan secara tepat. Berbeda dengan leader yang hanya duduk manis di kantor, hanya menerima laporan tanpa mengetahui persoalan yang sebenarnya, bisa jadi dia tidak bisa menyelesaikan persoalan secara tepat karena informasi yang masuk sudah informasi tahap ke-2, tidak original lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara waktu 30% masih diperlukan di balik meja untuk menyelesaikan administrasi dan sistem yang diberlakukan. Data-data administrasi merupakan tool pengontrol terhadap kinerja bulana, triwulan, semesteran dan tahunan. Sistem perlu dibuat untuk membuat aturan tetap berjalan tanpa mesti “dipelotiotin” setiap saat. Dengan sistem juga diharpakan semuanya dapat berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Bukan aturan manager, bukan aturan direksi dan bukan aturan yang setiap saat berubah. Ini penting karena sistem yang ada dapat menjadi semacam peta atau panduan untuk membangun aturan yang kredibel, dan bukan aturan yang sehari dijalankan, hari yang lain berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat laporan pun penting untuk mengukur prestasi tiap waktu. Biasanya di perusahaan-perusahaan yang besar menggunakan sistem pelaporan dengan menggunakan perandingan tahun sebelumnya, proyeksinya berapa dan realisasinya berapa. Dari sana kita dapat membandingkan capaian tahun lalu dengan tahun sekarang dan capaian antara proyeksi dengan realisasi. Ini baru perbandingan dengan internal kita sendiri, bagi perusahan-perusahaan yang sudah memiliki anak perusahaan lebih dari satu, perbandingannya bisa dilakukan dengan anak perusahaan lain untuk melihat kinerja masing-masing manajemennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah persoalan internal dirapikan, tinggal kita melihat dunia di luar perusahaan mulai dari konsumen mulai dari customer servis, kualitas produk, memelihara pelanggan baik dengan cara mengadakan even, hadiah, ucapan selamat, sampai kepada gathering konsumen. Sementara sisi lain adalah melihat plus minus kompetitor, memposisikan perusahaan kita apakah sebagai market leader atau penantang pasar. Sebab cara-cara yang dilakukan sebagai market leader berbeda dengan trik yang dilakukan sebagai penantang pasar. “Spy” terhadap kompetitor pun menjadi sesuatu yang penting karena kita tidak akan mengetahui harus melangkah ke mana dengan sasaran yang secara tepat. Bisnis itu ibarat perang, ada kawan ada lawan, ada senjata, ada benteng pertahanan ada mata-mata, ada strategi, ada komandan, ada anak buah. Semuanya harus berjalan secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Promosi pun menjadi penting sebab langkah tersebut dilakukan sebagai sebuah bentuk komunikasi antara pemilik produk dengan konsumen. Dan dalam beberapa kasus tertentu tidak semua konsumen dapat dengan mudah menerima sebuah produk secara langsung, di sinilah peran divisi promosi dan media untuk mengedukasi konsumen. Suatu produk mungkin bagus, tapi karena belum dikenal maka resikonya tidak ada yang mengetahui atau masih sedikit yang mengetahui. Hasilnya, tingkat selling menjadi sangat kecil. Tapi dengan terus menerus melakukan promosi baik di media massa, out door, pameran, spanduk, brosur dengan cara-cara yang tepat, maka lambat laun  konsumen akan semakin dekat dengan perusahaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain adalah menentukan segmentasi, positioning, kualitas produk yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini,. Tim yang handal akan dengan seksama melihat hal-hal item-item tersebut sebagai pendukung proses berjalannya perusahan. Tapi jangan lupa untuk terus menerus mengevaluasi segala hal yang kita lakukan, sehingga kita bisa mengetahui apakah yang kita lakukan sudah cukup efektif atau belum. Kritik yang konstruktif secara elegan perlu dibangun untuk membentuk budaya perusahaan yang berkulitas dan visioner. Apabila produk yang kita jual mampu menumbuhkan add value kepada konsumen, maka add value perusahaan dalam bentuk profit atau kepercayaan yang terus menerus oleh pelanggan menjadi sesuatu yang terus berkesinambungan. Semoga. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;em&gt;Penulis adalah Bussiness dan HR Consultant.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116010264607018614?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116010264607018614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116010264607018614' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010264607018614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010264607018614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/10/membangun-profit-berkesinambungan.html' title='Membangun Profit Berkesinambungan dalam Bisnis'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116010242484852988</id><published>2006-10-06T09:38:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T09:40:25.023+07:00</updated><title type='text'>Meloloskan Diri dari Belenggu Pemikiran (Seri Artikel Success Revolution)</title><content type='html'>Oleh ADE ASEP SYARIFUDDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU saya kecil saya sangat kagum kepada kakak sepupu saya. Dia orangnya pintar, nilainya selalu di atas 8 setiap akhir ujian sekolah. Orangnya pendiam, tidak banyak bicara, tapi cukup rajin belajar. Kelas 4 SD, dia di-“ambil” oleh seorang dermawan kaya dan menyekolahkannya sampai selesai. Prestasinya tetap konsisten sampai di masuk ke ITB lewat PMDK. Saya pernah bertanya pada dia, mengapa dia selalu mendapatkan nilai yang tinggi, selalu rangking lima besar dan bisa masuk perguruan tinggi prestisius. Dia hanya menjawab sederhana, “Saya yakin saya bisa melakukannya. Tapi harus dibarengi dengan sikap ulet dalam belajar, jangan cepat bosan dengan buku-buku yang menumpuk dan saya selalu penasaran kalau belum menemukan jawaban terhadap soal-soal, saya tidak akan berhenti sebelum memperoleh jawabannya,” tuturnya. Sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan rekanan yang memiliki omzet ratusan juta rupiah per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tetangga saya yang lain, dia hanya lulus SMA, sekolahnya juga swasta yang kurang bermutu. Nilainya selalu di bawah rata-rata, paling besar hanya 6, pernah tinggal kelas sekali waktu di SD. Setiap hari kerjaannya hanya ngerumpi temannya yang berprestasi tinggi dengan mengatakan, “Terang saja dia pintar kan karena bapaknya kepala sekolah. Dia nilainya tinggi kan karena dikatrol, dia dapat beasiswa kan karena katebelece dari orang tuanya.” Demikian kira-kira kerjaan setiap harinya sampai-sampai dia lupa kewajibannya untuk belajar. Kalau mengerjakan PR biasanya setengah jam sebelum masuk sekolah meminta kepada temannya untuk mencontek. Semalaman dia menonton televis sampai jam 12 malam, pagi-pagi kadang kesiangan bangunnya. Sekarang dia adalah pengangguran, keluar dari pekerjaannya karena banyak menggunakan uang perusahaan dengan cara tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua contoh kasus di atas bisa dijadikan representasi cara berpikir masyarakat kita. Orang pertama memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, sementara orang yang kedua memiliki keyakinan juga tapi keyakinan yang tidak memberdayakan dirinya alias yakin akan kekurangan dirinya. Keduanya menghasilkan sesuatu sesuai dengan jalan pikirannya, yang pertama menjadi orang sukses, sementara yang kedua menjadi pecundang dan menjadi beban masyarakat. Persoalannya sangat sepele kalau dilihat dari sisi manajemen pikiran, mau atau tidak pikiran memutuskan sesuatu sesuai dengan keinginan tuannya. Siapakah tuannya? Tuannya adalah kita sendiri. Kalau kita menyuruh pikiran untuk memprogram kesuksesan, maka pikiran dengan sangat cepat membuahkan hasil-hasilnya, sementara kalau kita memprogram pikiran untuk gagal, pikiran pun akan menjawab dengan segera dan menyodorkan kegagalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang demikian, berarti pikiran bisa diarahkan dong? Benar sekali, kita dapat mengarahkan pikiran ke arah yang kita inginkan. Tapi bagaimana kalau yang teringat hanyalah kegagalan, kefrustrasian, ketidakpercayaan kepada diri sendiri, pesimis, negatif thinking, cemburu tidak beralasan, iri, dengki. Ini sudah bisa ditebak, hasilnya juga akan sama. Kalau kita tidak dapat melepaskan diri dari hal-hal tadi, ini artinya pikiran kita telah dikunci, telah dikungkung dan telah dibelenggu oleh sesuatu keyakinan yang tidak memberdayakan. Terlalu banyak alasan yang dikemukakan oleh masyarakat kita untuk memberikan pembenaran bahwa dirinya tidak mau untuk berusaha dan tidak mau bekerja keras. Ada yang berdalih, saya kan anak orang miskin, mana bisa jadi kaya, saya kan anak kampung, tidak mungkin bisa sukses seperti orang-orang yang tinggal di Jakarta, saya kan balung kere. Saya kan pendidikannya cuma SD, sementara pekerjaan mensyaratkan ijazah S-1, tidak mungkin dapat berkompetisi dengan anak kuliahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja perhatikan di sekeliling Anda, apa yang dikatakan oleh kawan-kawan Anda, tetangga Anda, teman sejawat Anda. Lebih banyak memikirkan sesuatu yang positif atau yang negatif? Sudah bisa ditebak, 60% dari mereka selalu membicarakan sesuatu yang negatif, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri. Hal lain yang perlu ditanyakan adalah, mengapa hal itu bisa terjadi, sejak kapan muncul pikiran negatif tadi. Sewaktu kita kecil, pikiran kita sangat bebas, tidak ada yang melarang. Kita bebas mengucapkan sesuatu walaupun salah, kita boleh mencoret-coret tembok karena masih kecil, kita boleh memecahkan gelas, kita boleh merobek-robek koran. Nyaris semua yang dilakukan baik benar ataupun salah diperbolehkan. Orang tua akan berkata, “Kan dia masih anak kecil, tidak apa-apa mencorat-coret tembok. Nanti juga kalau sudah besar mengerti dan menghentikan kebiasaannya.” Bahkan orang tuanya selalu bilang pinter terhadap apapun yang dilakukan sang anak tersebut walapun salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak besar, biasanya di usia 4 atau 5 tahun perlakuan orang tua mulai berbeda. Kalau ada tindakan yang keliru langsung dibilang salah, bahkan tidak segan-segan kelopak mata orang tuanya diperlebar alias melotot. Sang anak menjadi ketakutan dengan respons orang tuanya yang agak berbeda tidak seperti biasanya. Tapi lagi-lagi anak mencoba sesuatu sampai-sampai memecahkan gelas, piring atau mainan dari listrik. Kontan aja tidak ada maaf bagi si anak. Tidak jarang anak dimaki-maki, dimarahin dan dihukum. Ditambah lagi ketika anak masuk sekolah dasar (SD) sewaktu pelajaran tertentu kebetulan anak tersebut mendapatkan nilai kecil, temannya bilang dia bodoh, gurunya pun bilang dia bodoh, sampai ke rumah orang tua dan kakak-kakaknya juga bilang bodoh. Tidak ada satupun yang mau mengerti mengapa dia mendapatkan nilai yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan selanjutnya tidak heran anak-anak yang dididik dengan model ini menjadi introvert, rendah diri, tidak percaya kepada orang lain, cemburu dengan prestasi temannya. Celakanya sikap-sikap tersebut terus dibina hingga dewasa dan menjadi file permanen. Trauma-trauma masa kecil yang cukup menggunung tidak bisa lepas dari file-file pikirannya. Semua pengalaman masa lalu tersebut telah membelenggu pikirannya, telah membuat keyakinan-keyakinan yang sama sekali tidak memberdayakan. Bila tidak diterapi, maka kondisi seperti ini akan sangat merugikan masa depannya. Hidupnya kering, tidak bermakna. Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) kondisi seperti ini bisa diterapi dengan tool Reframing (membuat bingkai baru). Persepsi pikiran lama yang tidak memberdayakan digantikan dengan persepsi baru yang lebih memberdayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reframing ini adalah salah satu cara untuk lolos dari belenggu pikiran-pikiran yang tidak memberdayakan tadi. Ini bukan pekerjaan mudah, diperlukan usaha yang kuat dan sungguh-sungguh untuk keluar dari keyakinan negatif tadi. Misalnya, mengapa mesti cemburu kepada orang lain, kalau orang lain memiliki prestasi yang hebat kita mestinya senang karena kita dapat belajar dari mereka, tidak perlu jauh-jauh mencari orang yang bisa membantu. Kalau di dalam diri kita ada kekurangan tidak mesti rendah diri. Setiap orang memiliki kekurangan, belajarlah untuk menutupi kekurangan tersebut sampai kita memiliki kemampuan lain. Yang tidak wajar adalah tidak mengakui kekurangan dan tidak mau belajar untuk keluar dari kekurangan tadi. Sikapilah segala sesuatu di sekeliling kita secara proporsional, jangan terlalu berlebihan, jangan mudah menyimpulkan negatif padahal kita tidak memiliki bukti-bukti kongkrit dan jangan menilai seseorang hanya dari permukaan luarnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milikilah prinsip-prinsip seperti, Pertama, sesuatu yang terjadi pada diri kita pada hari ini adalah sesuatu yang terbaik dalam pandangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita tetap bersyukur kalau yang datang kepada kita terasa enak. Sebaiknya kita juga harus bersyukur kalau yang datang kepada kita terasa tidak enak secara fisik. Pernah ada satu cerita, seseorang yang mau terbang ke London terlambat datang di sebuah Bandara. Ia marah-marah kepada petugas bandara. Sekitar 15 menit kemudian terdengar kabar bahwa pesawat tersebut meledak. Dari sikap marah-marah ia langsung bersyukur dan segera menginsyafi sesuatu yang baru saja terjadi. Ini artinya, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik menurut pandangan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kedua, tanyakan, apa hikmah positif dari segala kejadian yang menimpa kepada kita walaupun lagi-lagi terasa tidak enak dan merugikan dalam pandangan biasa. Bisnis kita rugi misalnya, tanyakan kepada diri sendiri, apa manfaat dari kerugian bisnis ini. Pikiran kita akan menjawab secara jujur, kalau bisnis rugi berarti kita harus belajar lagi kepada orang yang sudah sukses, hati-hari dalam manajemen keuangan, dan lain-lain. Segala kejadian pasti ada manfaat positif yang bakal datang kepada kita. Ketiga, sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik untuk kita. Manusia hanya memiliki pandangan mata, telinga, dan asumsi akal. Belum tentu yang sudah dipikir matang-matang akan berdampak baik juga. Artinya, kalau sudah memutuskan sesuatu, lakukanlah, tapi tetap tawakal dan pasrah kalau-kalau hasil yang datang tidak sesuai dengan rencana kita. Oleh karenanya, loloskanlah kita dari belenggu pikiran kita supaya kita tidak menjadi tahanan di dalamnya. Inilah langkah awal Success Revolution. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Banyumas, peminat NLP, Hypnotherapi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116010242484852988?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116010242484852988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116010242484852988' title='222 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010242484852988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010242484852988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/10/meloloskan-diri-dari-belenggu.html' title='Meloloskan Diri dari Belenggu Pemikiran (Seri Artikel Success Revolution)'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>222</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116010230461284796</id><published>2006-10-06T09:37:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T09:38:24.720+07:00</updated><title type='text'>Mengawinkan Agenda Setting Media dan Pelaku Bisnis</title><content type='html'>Oleh ADE ASEP SYARIFUDDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          GAGASAN STAMCO Consulting untuk membentuk Media Forum antara surat kabar, radio dan televisi lokal yang ada di Banyumas dan pelaku bisnis patut mendapatkan penghargaan. Pasalnya, selama ini kedua belah pihak yang cukup memiliki kekuatan signifikan masih berjalan sendiri-sendiri. Media asyik dengan aktifitas jurnalismenya bahkan terjebak dengan berita-berita yang bernuansa politis dari pemegang kebijakan. Sementara para pelaku bisnis pun asyik dengan hitungan-hitungan angka, dan kepentingan lain serta merasa tidak memiliki kepentingan dengan media kecuali untuk kepentingan publikasi iklan produk-produknya.&lt;br /&gt;          Kondisi parsial seperti ini boleh jadi tidak menguntungkan untuk percepatan masa depan para pelaku bisnis di Purwokerto dan sekitarnya. Alih-alih yang memiliki akses kuat ke pusat ibukota akan memiliki percepatan bisnis yang kuat, sementara di pihak lain, para pelaku bisnis pemula yang belum memiliki kekuatan finansial yang cukup cukup kuat dan pengalaman yang masih terbatas, sulit untuk melakukan proses belajar dalam melakukan kiprahnya. Ini berarti, ada kesenjangan di antara pelaku bisnis yang cukup menghambat.&lt;br /&gt;          Geliat bisnis di Purwokerto dan sekitarnya cukup signifikan dalam berbagai aspek, seperti properti, seluler, rumah makan dan hotel, pendidikan, otomotif, supermarket (ritel), perbankan, elektronik, perbankan dll. Melihat kondisi seperti ini berarti perputaran uang di Purwokerto cukup tinggi. Dengan sendirinya gairah para pelaku bisnis dari waktu ke waktu semakin bersemangat. Ini adalah peluang yang harus terus dipelihara dan dipupuk, sehingga kondisi yang sudah demikian kondusif tetap dipelihara untuk membangkitkan gairah bisnis lebih tinggi lagi bagi warga sekitar Purwokerto.&lt;br /&gt;          Di kota-kota besar, antara pelaku bisnis dan media sudah sangat tersegmentasikan. Media-media bersaing untuk merebut hati dan minat para pelaku bisnis. Lihat saja jumlah Majalah yang terbit seperti Franchise, Swa Sembada, Pulsa, Motor Plus, Info Komputer, Kontan, Warta Ekonomi, dll. Semua itu menunjukkan betapa persaingan bisnis sangat ketat, betapa media berebut mencuri hati para pebisnis dengan menyodorokan bacaan-bacaan pilihan yang cukup bermutu. Media yang memiliki kepekaan untuk mengikuti perkembangan setting pelaku bisnis akan terus survive, sementara media yang terlambat mengetahui keinginan mereka, jangan salahkan siapa-siapa kalau tidak bisa melanjutkan durasi terbitnya. Siapapun berhak untuk menerbitkan surat kabar dan siapapun berhak mengumumkan kondisi darurat untuk tidak melanjutkan terbit dalam edisi berikutnya. Tidak usah malu-malu ketimbang kerugian yang diderita makin hari makin besar. Sekarang ini surat kabar sudah masuk dalam wilayah bisnis media, bukan hanya wilayah idealis. Artinya nilai bisnis dan idealis mesti berjalan secara seimbang.&lt;br /&gt;          Memang di kota-kota besar tingkat persaingan cukup ketat terjadi. Walaupun dalam prakteknya hanya sedikit media yang benar-benar “mengayomi” para pelaku bisnis. “Mengayomi” artinya, mereka secara angka memiliki database yang cukup kuat daftar pebisnis yang ada di wilayah edarnya. Kepentingannya adalah untuk mengetahui keinginan mereka secara spesifik, apa sebenarnya yang menjadi minat dari masing-masing kelompok tersebut. Intinya, ketika ada komunikasi dua arah antara media dan pebisnis, ada harapan keduanya melakukan simbiosis mutualisma. Tapi ini pun tidak dapat “dipaksakan”. Artinya, hanya yang memiliki add value saja yang mendapatkan ruang di kalangan pelaku bisnis tadi. Jika penampilan medianya kampungan, urakan, lebih banyak menampilkan berita-berita yang menyeramkan, jangan harap akan bisa diterima.&lt;br /&gt;          Bagaimana dengan kasus Purwokerto? Gagasan ini masih relatif baru. Selama ini pelaku bisnis dengan media melakukan interaksi terlalu formal. Pebisnis memiliki budget iklan, media mengiklankan dan memberitakan, setelah transaksi tersebut, selesai sudah. Jenis interaksi seperti ini tidak jelek, tapi sangat rentan dan sangat rapuh. Keduanya mendapatkan nilai manfaat dari kelebihan masing-masing, tapi belum mengoptimalkan kelebihan masing-masing untuk saling mensupport secara maksimal. Ini berarti diperlukan jenis media relation yang lebih dalam lagi, lebih serius lagi untuk menciptakan Purwokerto sebagai magnet bisnis bagi wilayah sekelilingnya.&lt;br /&gt;          Satu usulan kongkritnya adalah, membentuk forum tapi tidak mengikat. Artinya, kalau memang forum tersebut efektif, mewakili semua kepentingan, memiliki nilai tambah dan benefit (baik benefit material langsung maupun benefit masa depan), maka banyak pihak yang akan berminat. Tapi bila forum tersebut tidak efektif, bisa saja hanya satu kali pertemuan kemudian selesai. Ini berarti diperlukan orang-orang yang visioner dalam forum tersebut yang memiliki kapabilitas, kualitas dan relation yang yang handal. Ini memang challenging bagi kita semua. Siapa yang memiliki ide, kemudian memutuskan untuk mewujudkannya dan tangguh menghadapi berbagai rintangan yang ada di depannya dan terus menerus melakukan inovasi tiada henti, tipe-tipe orang seperti itulah yang akan meraup kesuksesan di masa mendatang sesuai dengan skenario yang dibuat oleh dirinya masing-masing.&lt;br /&gt;          Satu hal lagi, para pelaku bisnis di Jakarata belum menghitung Purwokerto sebagai sebuah kekuatan yang patut diperhitungkan untuk mengembangkan coverage bisnisnya secara lebih lebar lagi. Tidak heran bila masih sedikit investor yang datang ke Purwokerto dan sekitarnya menanamkan modalnya. Kecuali sejak awal memang ada orang-orang yang memiliki jaringan bisnis yang cukup kuat dengan para investor di Jakarta. PR Kita selajutnya adlaah mengangkat nama Purwokerto di mata Jakarta agar lebih diperhitungkan lagi. Salam sukses. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah General Manager dan Editor in Chief Harian Radar Banyumas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116010230461284796?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116010230461284796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116010230461284796' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010230461284796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010230461284796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/10/mengawinkan-agenda-setting-media-dan.html' title='Mengawinkan Agenda Setting Media dan Pelaku Bisnis'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-116010219875064214</id><published>2006-10-06T09:36:00.000+07:00</published><updated>2006-10-06T09:36:39.126+07:00</updated><title type='text'>Pilih Beli Buku, Apa Belanja di Mal?</title><content type='html'>Oleh ADE ASEP SYARIFUDDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEPATAH mengatakan, buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Sekarang, pepatah tersebut tinggal menjadi pepatah yang kurang memiliki arti di kalangan masyarakat pada umumnya. Hanya segelintir orang, bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memberikan perhatian dan porsi yang cukup serius kepada buku. Nyaris setelah selesai kuliah atau sekolah buku hanya menjadi barang antik yang tidak pernah disentuh. Persis seperti jimat yang diwariskan oleh leluhur, dibuang takut kewalat, sementara untuk dipergunakan sudah merasa tidak membutuhkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis seringkali memberikan saran dan masukan kepada orang-orang yang ingin sukses agar rajin membaca buku. Mengapa membaca buku? Sebab membaca buku merupakan belajar yang paling hemat. Untuk mengikuti seminar, workshop, training, biaya yang diperlukan lumayan tinggi. Training pengembangan diri oleh pembicara-pembicara handal sekelas Tung Desem Waringin, Andrie Wongso, Ary Ginanjar membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Memang ada cara lain, belajar kepada orang yang sudah sukses, tapi waktu mereka pun sangat terbatas. Kalau orang sukses itu ayah kita atau paman kita bisa saja kita ngobrol dengan mereka secara leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dengan membaca buku, kita dapat menghemat biaya dan waktu. Dengan catatan kita memberikan waktu yang cukup untuk membaca minimal sehari 2 jam. Satu buku merupakan refleksi pengalaman seseorang selama beberapa tahun. Ada penulis yang melakukan penelitian selama 25 tahun dan dituangkan ke dalam buku, ini berarti, kita tidak usah mencoba selama 25 tahun untuk meniru seperti penulis tersebut. Cukup seminggu atau dua minggu sudah dapat mendapatkan informasi yang lengkap tentang pengalaman mereka. Kita juga dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penulis tersebut karena kita sudah mengetahui titik kelemahannya dan cara mengantisipasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita dapat membaca 2 jam sehari dengan asumsi 50 halaman selama 2 jam, tebal buku 200 halaman maka dalam waktu empat hari kita dapat membaca satu buku. Tarolah satu buku diselesaikan dalam satu minggu, itu berarti dalam satu bulan empat buku, dalam waktu satu tahun 4 X 12 buku = 48 buku. Menurut Brian Tracy, literatur yang dibaca sebanyak itu sama dengan syarat untuk meraih gelar magister atau doktor. Bila setahun kita menekuni satu bidang, berati kita dapat ahli dalam bidang tersebut. Dan secara tidak disadari kualitas diri kita setiap saat berkembang terus seiring dengan makin banyaknya wawasan yang kita miliki. Sudah tentu jangan melupakan aktifitas real di lapangan. Teori dan pengalaman orang yang ada di buku bisa menjadi bekal untuk menghadapi persoalan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian banyak juga cemoohan yang dilontarkan kepada para kutu buku dengan mengatakan terlalu teoritis lah, terlalu text book lah dll. Entah apa alasan mereka mengungkapkan hal tersebut. Apakah karena justifikasi dari kemalasan mereka dalam membaca buku atau memang mereka -melihat ketidak-signifikan-an antara pendapat orang yang rajin membaca buku dengan kemampuan menghadapi persoalan yang ada. Bila ada ketidak-signifikan-an itu tidak berarti membaca buku tidak bermanfaat atau keliru. Aplikasinya saja yang tidak tepat untuk konteks persoalan yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Belanja VS Beli Buku&lt;br /&gt;Setiap bulan setelah gajian, biasanya ibu-ibu minta diantar suaminya ke Mal. Mereka belanja berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, minyak goreng, gas, pasta gigi, sabun, susu anak dll. Besarnya belanja bervariasi, antara Rp 300 – Rp500 ribu per bulan. Itu belum untuk membayar tagihan-tagihan. Alhasil kebutuhan bulanan tidak kurang dari Rp 1 juta. Mengeluarkan Rp 1 juta untuk kebutuhan bulanan sangat mudah. Coba bilang ke istri Anda untuk dibelikan 1 atau 2 buah buku saja selama satu bulan, bagaimana reaksi mereka? Bervariasi, yang mengerti akan mempersilakan untuk membeli, tapi yang tdak mengerti akan mengatkan, buat apa beli buku? Padahal budget buku yang berkualitas rata-rata antara Rp 40 ribu- Rp 50 biru. Dua buku sekitar Rp 100 ribu. Tidak terlalu mahal dibanding budget belanja lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilakukan penelitian, maka para istri lebih banyak yang menolak mengeluarkan anggaran membeli buku daripada yang menyetujui. Mengapa? Banyak sekali alasannya. Kebanyakan kita masih memberikan porsi untuk kebutuhan fisik jauh lebih besar daripada kebutuhan pikiran. Padahal kalau dikaji secara seksama, buku adalah makanan pikiran, untuk memperoleh kesuksesan di masa mendatang, maka pikiran kita harus terus menerus diberi masukan-masukan yang bermanfaat, pikiran kita harus terus di-charge. Kalau sehari-hari pikiran kita hanya menonton gosip selebritis, ngerumpi, berpikir negatif tentang keburukan orang lain, membuat pembenaran-pembenaran atas kemalasan mereka, sudah tentu outputnya pun akan menghasilkan pikiran yang pesimis, negatif thinking, buruk sangka dll. Apakah itu yang diinginkan oleh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kita terlalu berharga untuk diisi oleh sampah-sampah yang tidak bermanfat. Oleh karenanya sejak sekarang mestinya buku menjadi salah satu item belanja bulanan, setelah membeli beras, kopi, susu, gas, tagihan telepon dan listrik. Jika tidak, entah apa jadinya diri kita dan kultur masyarakat kita di masa mendatang. Sementara di sisi lain, kalau kita tengok pergerakan buku di negeri lain sangat pesat. Masyarakatnya sudah sangat mencintai membaca, belajar setiap saat. Orang Jepang malahan kalau mau masuk ke (maaf) toilet pun mereka membawa buku. Karena di sana ada waktu senggang yang bisa dimanfaatkan. Sementara kita, masyarakat Indonesia, masuk toilet harus menyalakan rokok dulu sambil melamun ke sana kemari tidak karu-karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mencintai buku? Ini PR terbesar bagi kita, bagaimana agar masyarakat kita tumbuh rasa cinta kepada buku, ke mana-mana membawa buku, menyiapkan anggaran tiap bulan untuk membeli buku, mengajarkan anak-anak untuk menyukai buku. Banyak alasan yang dikemukakan dan sangat sering terdengar. Ada yang beralasan karena persoalan ekonomi, sehingga anggaran untuk belanja saja kurang, jangankan membeli buku. Akhirnya buku menjadi sesuatu yang tidak menjadi skala prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan memang sangat banyak dan bisa dicari-cari. Tapi demi menyelamatkan generasi mendatang agar menjadi manusia yang berkualitas, maka mencintai buku menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Gerakan mencitai buku harus dimulai dari rumah ke rumah, dari pribadi-pribadi yang memiliki hobi membaca. Pengalaman membuktikan bahwa yang memiliki bacaan luas, memiliki peluang sukses lebih besar daripada yang tidak memiliki wawasan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah pecinta buku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-116010219875064214?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/116010219875064214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=116010219875064214' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010219875064214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/116010219875064214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/10/pilih-beli-buku-apa-belanja-di-mal.html' title='Pilih Beli Buku, Apa Belanja di Mal?'/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113665653131154274</id><published>2006-01-08T00:55:00.000+07:00</published><updated>2006-01-08T00:55:31.656+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menceburkan Diri ke Dalam Lautan Masalah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KATA &lt;/strong&gt;masalah atau persoalan bagi sekelompok orang merupakan kata yang "menakutkan". Terbayang dalam pikirannya situasi yang tidak menentu yang bisa mengganggu kenyamanan dirinya. Tapi bagi sekelompok yang lainnya, kata masalah disimbolkan sebagai sesuatu peluang di dalam pikirannya, karena dengan datangnya masalah berarti dirinya tengah diuji dengan salah satu bentuk soal yang harus dijawab. Tingkat kesulitan soal tersebut menentukan grade kita dalam salah satu mata kuliah kehidupan ini. Semakin sulit, maka akan semakin advanced level mentalitas kita dalam hidup ini, sementara bila masalahnya biasa-biasa saja, sama saja dengan siswa SMA mengerjakan soal-soal ujian anak kelas 6 SD, mudah dijawab, tapi tidak memberikan peningkatan kualitas dirinya. Jadi, apa inti masalah dalam sudut pandang orang-orang sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, sebilah pedang atau golok untuk menjadi pedang yang indah, awalnya dari sebatang besi yang harus melalui proses pemanasan dalam suhu yang sangat tinggi sampai membara, kemudian dipukul berkali-kali sampai membentuk pedang. Tanpa dipanaskan, tidak mungkin besi batangan akan menjadi pedang yang indah dan tajam. Demikian halnya peralatan rumah tangga yang dibuat dari kayu jati yang indah, apakah kursi, buffet, mebeul, meja, awalnya adalah kayu gelondongan yang tidak memiliki bentuk. Oleh pengrajin digergaji, dibuang bagian-bagian yang tidak bermanfaat, digosok-gosok dengan ampelas sampai halus, diukir, dirakit menjadi barang rumah tangga yang indah dan mahal harganya. Bahan baku yang bagus, pengolahan yang baik akan menghasilkan kualitas yang bagus dan harganya yang tinggi. Sementara bahan baku yang kurang baik, pengolahannya asal-asalan, harganya juga bisa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas bisa juga diterapkan untuk manusia. Bila kita ingin menjadi manusia yang berkualiktas dengan harga tinggi, maka harus berani membayar dengan harga tinggi pula dalam melalui proses "pencetakan" SDM berkualitas. Anggap saja kita ibarat sepotong besi yang belum memiliki bentuk, api yang membara ratusan derajat celcius ibarat beratnya beban persoalan hidup yang menghimpit dan terjadi sehari-hari dan pedang yang bagus adalah mentalitas matang, pantang menyerah dan keterampilan yang tinggi dalam mengelola hidup ini. Dengan demikian, bila ingin menjadi manusia berkualitas maka secara sengaja kita harus menceburkan diri ke dalam lautan persoalan yang lebih banyak –bukan hanya persolan-persoalan kecil yang datang kepada kita—tapi sengaja kita mencari persoalan tadi. Dengan catatan, di tengah persoalan tadi kita mengurai benang persoalan satu per satu sampai semuanya tuntas, dan tidak mundur sebelum selesai. Setelah menyelesaikan persoalan yang satu, cari lagi persoalan yang lain yang lebih berat, demikian terus menerus dilakukan tiada henti. Bila mengacu kepada analogi di atas, ketika terus menerus berltih menyelesaikan persoalan maka kita sudah memiliki pedang-pedang yang tajam dalam jumlah banyak, golok, kelewang, celurit atau bahkan senjata lainnya untuk memudahkan jalannya hidup. Bagaimana kalau kita tidak memiliki alat atau senjata sementara kita hidup di tengah hutan belantara? Bisa dibayangkan, kondisinya juh lebih sulit bila dibandingkan dengan memiliki senjata yang lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjata dalam hidup memang tidak terlihat seperti pedang. Tapi bisa dibedakan siapa yang memiliki senjata yang lengkap dan siapa yang tidak dalam mengarungi hidup ini ketika benar-benar menghadapi situasi krusial. Senjata-senjata manusia yang harus dimiliki adalah, mentalitas pantang menyerah, ulet, disiplin, kesabaran melalui proses, kejujuran dalam berkata dan bersikap, optimis menghadapi semua kondisi yang terlihat menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bila senjata-senjata itu terus dipelihara, dipertajam, dan digunkan setiap saat, maka manfaatnya akan langsung kita rasakan. Sebaliknya, bila senjata-senjata yang dimiliki tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, bisa jadi akan menjadi karatan, tumpul dan akhirnya menjadi besi biasa yang hanya laku di mata tukang lowak yang berkeliling dari rumah ke rumah yang harganya sangat-sangat murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, untuk apa mengeluh kalau menghadapi persoalan. Lebih baik persoalan tersebut diajak dialog, mengapa persoalan itu datang, apakah manfaat yang menyertai persoalan tersebut dan yang lebih penting lagi bagimana solusi atau cara menyelesiakannya. Alhasil, bila persoalan dilihat dari sudut pandang yang berbeda, maka akan memunculkan kreatifitas yang cukup tinggi bagi si penemunya. Mungkin Edison tidak akan menemukan lampu pijar listrik kalau ia tidak penasaran melakukan eksperimen, kendaraan tidak akan ditemukan kalau kita merasa puas dengan jalan kaki atau naik kuda, dan lain-lain. Masalah bagi orang kreatif dan positif thinking adalah peluang. Karena dari sana dituntut untuk menemukan jawaban untuk mengatasinya. Berbeda dengan watak orang pesimis, masalah yang datang bisa menciutkan nyalinya untuk mencoba sesuatu yang lain yang lebih menantang, atau masalah diibaratkan sebagai penghalang untuk mencapi tujunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah kalau dalam kehidupan sehari-hari masih menjumpai masalah. Carilah hikmah di balik sesuatu yang tidak mengenakkan. Garam akan terasa asin kalau langsung mengunyahnya, tapi akan melezatkan masakan kalau komposisinya tepat oleh juru masak yang lihai. Gula pun bila langsung dimakan akan muncul sakit perut, tapi kalau dituang ke dalam air panas ditambah sedikit teh atau kopi, aromanya akan sangat menggoda. Hidup ini lebih banyak dibutuhkan banyak seni dalam menghadapinya. Tidak cukup hanya mengetahui ilmu hidup. Seni artinya seperti juru masak, satu jenis masakan dibutuhkan garam yang banyak, tapi masakan yang lain hanya butuh sedikit garam. Bagaimana kita tahu apakah satu masakan butuh lebih banyak garam daripada masakan lainnya? Banyak-banyaklah belajar memasak, nanti Anda tahu sendiri bagaimana menghasilkan masakan yang lezat. Banyak-banyaklah mencoba resep-resep yang ada kalau kita ingin menjadi juru masak handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah "juru masak" untuk kehidupan kita sendiri. Kalau ingin mahir, maka harus sering latihan mencoba resep-resep kehidupan ini yang pernah dicoba orang lain. Karena belum tentu resep orang lain yang bagus, akan langsung bagus ketika dicoba hanya sekali oleh kita. Dibutuhkan latihan yang sering, terus menerus sampai resep-resep tersebut terasa enak. Bahkan tanpa disadari, suatu ketika, kita akan menciptakan resep-resep baru, original buatan kita sendiri yang akan diikuti dan dicoba oleh ribuan orang. Bila resep kita terbukti dirasakan enak oleh orang lain, jangan kaget kalau banyak orang mencari kita untuk berguru dan bertanya bagaimana sampai resep tersebut terasa enak. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: ade_asep@yahoo.com atau Hp: +628122670444&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113665653131154274?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113665653131154274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113665653131154274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113665653131154274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113665653131154274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/01/menceburkan-diri-ke-dalam-lautan.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113662847935114881</id><published>2006-01-07T17:05:00.000+07:00</published><updated>2006-01-07T17:07:59.583+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyakit Menunda-nunda Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;SIANG&lt;/strong&gt; itu pekerjaan Andi belum selesai. Padahal kalau melihat kalender sudah menunjukkan tanggal 30 Desember. Waktunya untuk melakukan laporan akhir tahun kepada pimpinannya. Tapi entah mengapa pekerjaan Andi masih numpuk di sana-sini. Bahkan tugas bulan kemarin saja ada yang belum selesai. Padahal dia udah lembur satu minggu, bekerja siang dan malam untuk menuntaskan pekerjaannya. Mengapa sampai terjadi demikian? Ternyata Andi memang dikenal di kantor tersebut sebagai orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Yang mestinya dapat dikerjakan hari ini, dia tinggalkan sampai esok hari. Ternyata besoknya cukup banyak juga pekerjaan yang mesti dituntaskan. Mestinya pekerjaan hari itu selesai hari itu juga, Andi malah menunda-nunda. Padahal esok hari memiliki jenis pekerjaan yang berbeda dan harus diselesaikan hari itu juga. Akhirnya makin hari utang pekerjaan makin banyak dan menumpuk sampai pada saatnya dilaporkan malah kebingungan, stress berkepanjangan atau bahkan bisa saja jatuh sakit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita juga termasuk pengikut kebiasaan di atas? Menunda pekerjaan, bentar, besok, nanti, masih ada waktu kok dll alasan yang berupaya melakukan pembenaran terhadap segala tindakan kita penundaan pekerjaan tadi, padahal resikonya cukup berat. Pengalaman membuktikan bahwa tidak ada kenyamanan bagi orang-orang yang selalu menunda-nunda pekerjaan. Yang ada hanyalah rasa gelisah dan perasaan takut-takut dikejar target. Hasil pekerjaannya sudah bisa ditebak, tidak ada yang baik. Bagaimana mau baik dan berkualitas kalau dikerjakan dengan cara yang tergesa-gesa? Yang paling tepat adalah pekerjaan hari itu selesai untuk hari itu juga. Akan lebih baik kalau pekerjaan besok sudah mulai digarap pada hari ini. Bila kita membiasakan diri melakukan sesuatu secara disiplin apakah sulit? Tentu tidak, malah jauh lebih memudahkan kita sendiri. Memang awal melakukan disiplin butuh kerja keras untuk mengubah kebiasaan, tapi selanjutnya malah lebih terasa ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendisiplinkan diri diperlukan beberapa syarat;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, Manajemen waktu. Waktu tidak pernah kembali barang sedetik pun, setiap hari waktu kita menjadi berkurang. Contoh, kalau kita diberikan umur hidup 70 tahun, sekarang berusia 30 tahun, maka sejak detik ini kita sedang menghitung mundur 40 tahun detik demi detik menuju 70 tahun tadi. Bila satu jam saja dalam setiap hari kita melakukan wasting time, bisa dihitung dalam satu bulan --- dengan asumsi sebulan 30 hari--- sudah 30 jam. Dalam satu tahun sudah 30 x 12 bulan = 360 jam. Itu kalau satu hari satu jam, bagaimana kalau lebih dari satu jam, 5 jam mungkin, 6 jam atau bahkan wasting time berjam-jam untuk melakukan sesuatu yang tidak jelas kegunaannya. Betapa banyak waktu kita yang dibuang sia-sia tanpa ada manfaat yang berarti. Banyak orang yang mengatakan pekerjaannya terlalu menyita waktu sehingga kesulitan dalam menyelesaikannya tepat waktu. Alih-alih selalu muncul dalih dan alasan sebagai wujud pembenaran terhadap sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, Lakukan yang penting, tinggalkan yang tidak penting. Ada baiknya kalau kita memiliki program mingguan yang mem-&lt;em&gt;break down&lt;/em&gt; kegiatan sehari-hari mulai Senin sampai Minggu. Tulis target minggu tersebut apa saja yang ingin dicapai kemudian tuangkan ke dalam aktifitas harian dalam minggu tersebut. Kontrol terhadap aktifitas sangat mudah kalau sudah ada catatan dalam agenda kita. Ada sebuah buku yang cuku bagus berjudul &lt;em&gt;Agenda Refleksi dan Tindakan, untuk Hidup yang lebih Baik&lt;/em&gt; karya Andrias Harefa. Awalnya saya pikir seperti buku-buku lainnya ternyata di dalamnya adalah agenda satu tahun yang dipilah-pilah menjadi program pribadi bulanan, mingguan dan harian. Di sana ditulis daftar keinginan yang hendak kita capai dalam hidup ini, ada sekitar 40 item, kemudian daftar kedua adalah hal-hal yang dapat diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan dan dinikmati sebelum ulang tahun terdekat. Dan selanjutnyua adalah daftar tujuan satu minggu dalam hal keuangan dan karier, kesehatan tubuh, keluarga dan kerohanian, sosial dan emosional dan pengembangan diri. Buku ini hanya salah satu contoh saja, bisa menggunakan bahan lain untuk mencapi tujuan-tujuan kita. Yang penting, kita mampu memetakan daftar tujuan yang sudah ditetapkan dan ulet untuk menyelesaikan hari demi hari sampai tiba saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, Delegasikan pekerjaan yang bisa dikerjakan orang lain. Orang yang hebat bukanlah orang yang mengerjakan seluruh pekerjaan yang ada. Tapi, orang yang mampu mendelegasikan pekerjaan sesuai dengan porsinya masing-masing. Ini berlaku dalam perusahaan dan organisasi. Pekerjaan menulis serhakan kepada sekretaris, pekerjaan yang berkenaan dengan uang serahkan kepada bendahara dll. Memang dalam beberapa hal ada beberapa pekerjaan yang kita sendiri yang harus mengerjakan karena pertimbangn waktu, tidak ada orang yang mengerajkan dan pertimbangn lain. Tapi hal ini kan tidak dikerjakan setiap hari. Intinya, kalu ada pihak yang lebih bertanggungjawab untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, mengapa harus kita yang mengerjakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, Anggap setiap hari merupakan hari baru, perencanaan baru, semangat baru. Kerjakan sesuatu secara menyenangkan, sehingga banyaknya pekerjaan bukan menjadi penghalang untuk bersemangat. Coba ingat-ingat masa muda dulu ketika berpacaran dengan ibunya anak-anak. Hampir setiap minggu datang untuk "wakuncar", tidak mengenal hujan, panas atau penghalang lainnya, langkah demi langkah terasa menyenangkan, itu dilakukan karena ada rasa cinta dalam hati kita untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Artinya, pekerjaan apapun tidak akan terasa berat apabila dilandasi rasa cinta. Masalah menunda-nunda pekerjaan dengan dalih apapun sama sekali tidak akan terjadi. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan perasaan yang riang. Tapi, bagaimana agar kita mencintai seluruh pekerjaan yang kita lakukan? Sudah tentu tidak semua orang dapat melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sudah dalih lagi. Tapi harus dikstakan secara jujur bahwa pekerjaan yang kita lakukan sekarang tidak semuanya pekerjaan yang kita cintai. Kita sangat mendambakan menjadi seorang sekrataris, namun mengapa kita malah menjadi selles promotion girl (SPG). Satu sisi peluang sekretaris tidak kunjung muncul, tapi di dengan kita ada peluang lain. Dengan pertimbangan daripada nganggur lebih baik bekerja walaupun tidak sesusai hati nurani. Mestinya, ketika sudah memasuki suatu pekerjaan niatan kita harus diubah. Tidak hanya asal bekerja, tapi memang ini pekerjaan yang harus digeluti dan dicintai apapun kondisinya. Bukankah bekerja itu adalah belajar yang dibayar? Kalau niatnya sudah demikian, suatu ketika ada peluang baru yang lebih sesuai dan kita bisa mengambil jenis pekerjaan tersebut bisa saja pindah ke tempat baru. Ingat teori tangga, untuk naik ke tangga yang lebih tinggi maka tangga yang lebih rendah tetap dijadikan pijakan, demikian selanjutnya sam pai meraih tangga yang terakhir. Bukankah hidup ini adalah meniti detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi buln, tahun demi tahun, kesulitn demi kesulitan. Semuanya adalah proses untuk menghantarkan kepada tujuan kita, kebahagiaan di dunia ini dan di akhirat kelak. Dengan demikian, disiplin merupakan salah satu watak orang-orang sukses. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;-----------------------&lt;br /&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: ade_asep@yahoo.com atau Hp: +628122670444&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113662847935114881?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113662847935114881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113662847935114881' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113662847935114881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113662847935114881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/01/penyakit-menunda-nunda-pekerjaan-oleh.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113618577185200585</id><published>2006-01-02T14:07:00.000+07:00</published><updated>2006-01-02T14:09:32.063+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sudut Pandang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;PADA &lt;/strong&gt;dasarnya segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan dan alam ini adalah netral, tidak ada makna sama sekali. Setiap manusia memberi makna kepada kejadian-kejadian tersebut sesuai dengan latar belakang informasi yang dimiliki masing-masing. Satu kejadian bisa dimaknai berbeda oleh dua kepala yang berbeda, yang satu bisa menilai baik, yang lain tidak mustahil menilai sebaliknya. Dua orang yang memandang sebuah gunung, yang satu dari arah selatan dan yang lainnya dari arah utara. Ketika mereka kembali ke tempat yang sama dan dimintai laporannya tentang gunung tersebut maka dipastikan laporannya akan berbeda. Mengapa? Inilah sudut pandang. Kadang-kadang orang memberikan arti kepada sesuatu sesuai dengan kepentingannya, padahal dia mengetahui ada arti lain yang berbeda, tapi dia memilih yang paling sesuai dengan yang dia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Contoh lain, seorang suami berbicara kepada istrinya bahwa mulai bulan depan ia harus bekerja lebih keras lagi untuk meningkatkan kinerja perusahannya. Konsekuensinya, hari-hari libur yang sudah dijadwalkan bisa jadi tidak bisa libur karena banyaknya pekerjaan tadi. Mendengar informasi it, sang istri spontan merengut dan protes mengapa hari libur malah kerja, yang biasanya rekreasi atau jalan-jalan akhirnya hanya tinggal di rumah. Sang suami kemudian melanjutkan, bahwa dari kerja lembur tersebut, ia mendapatkan uang lembur tambahan sebesar 5% dari gaji setiap harinya. Spontan wajah istri yang tadi cemberut menjadi berbinar-binar dan ia mengatakan daftar barang-barang yang akan dibeli apabila ada uang tambahan. Secepat itukah sang istri berubah pikiran? Ya itulah manusia, satu tema pembicaraan bisa memunculkan suatu respons tertentu, dan seketika juga bisa berubah respons apabila tema pembicaraan dialihkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan demikian, satu persoalan bisa dimaknai dengan bermacam-macam arti baik yang positif maupun yang negatif. Usaha kita sekarang ini adalah, bagaimana caranya agar segala sesuatu yang terjadi pada kita selalu dimaknai dengan sesuatu yang positif apapun kejadiannya. Suatu hari hujan deras turun dan ternyata genting di atas rumah pecah dan bocor. Airnya ke mana-mana masuk ke dalam rumah. Bagi si pemikiran sempit mungkin akan marah-marah, mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Tapi bagi si pemikir positif setelah reda akan naik ke atas genting dan berpikiran, untung hanya satu genting yang pecah, kalau lebih dari satu, rumahnya sudah menjadi tempat air terjun karena air hujan yang cukup deras masuk ke dalam rumahnya. Kata-kata untung ....., kalau terjadi.... maka resiko yang akan terjadi jauh lebih besar, ini biasanya berlaku dalam filosofi Jawa. Awal-awal mendengar orang yang selalu mengatakan untung dalam berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan, kita berpikir orang itu selalu pasrah terhadap nasib. Namun itulah sebenarnya yang mesti diungkapkan oleh kita kalau hidup ini ingin bahagia. Sudut pandang yang negatif apapun alasannya sama sekali tidak menguntungkan baik bagi yang memikirkannya maupun bagi yang mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Manfaat lain bagi orang yang selalu memiliki sudut pandang positif, bagi yang memiliki jiwa entreprenerur maka segala hal yang terjadi di depan mata akan menjadi peluang bisnis yang mengesankan. Contoh, dengan macetnya kota Jakarta di berbagai tempat, muncul bisnis delivery order terutama untuk makan siang bagi para karyawan yang bekerja di gedung-gedung yang tinggi. Pukul 10 pagi pesanan sudah disampaikan lewat Hot line, dan pada pukul 12.30 makanan sudah ada di tempat. Untuk turun ke luar mencari warung makan, dipastikan akan terjebak macet dan kembali cukup terlambat. Namun walaupun banyak kesempatan muncul di depan mata, masih banyak orang yang berpendapat sulit untuk melihat segala peluang yang ada di depan mata. Untuk memaknai segala sesuatu yang terjadi menjadi positif, adalah bertanya apa yang bisa menjadi manfaat dari kejadian yang datang kepada kita. Bila setiap hal menemukan aspek manfaatnya, maka kita akan senantiasa memiliki sudut pandang positif. Lupakan segala dampak negatif dari peristiwa yang terjadi tadi. Cukup sederhana kan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bila kita sudah memiliki kemampuan untuk memilih dan memberi makna positif kepada sesuatu yang terjadi, maka untuk mencapai tujuan yang diinginkan sangat mudah. Dengan kata lain, orang yang memiliki watak positif thinking tingkat kesuksesannya jauh lebih tinggi ketimbang yang negatif thinking Mengapa demikian? Wajar saja karena yang dipikirkannya selalu yang baik-baik saja, rencana baik, pikiran baik, berbicara baik, respon baik dll. Emosinya sangat stabil menghadapi berbagai peristiwa yang beragam. (*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;-----------------------&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:ade_asep@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ade_asep@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; atau Hp: +628122670444&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113618577185200585?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113618577185200585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113618577185200585' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113618577185200585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113618577185200585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2006/01/sudut-pandang-oleh-ade-asep.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113601075041226753</id><published>2005-12-31T13:25:00.000+07:00</published><updated>2005-12-31T13:32:30.543+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Body Language Rapport and Influence&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;by Jules Collingwood NLP Trainer Assessor&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BODY language communicates something, regardless of whether we wish to communicate or not. Living systems cannot not communicate. Without wishing to push the bounds of credibility, I include plants as demonstrators of body language. They wilt when short of water, lose the green in their leaves when short of nutrients and turn brown at the edges when they get too cold. These events can be observed by anyone. Of course there are more obscure bodily communications in the plant world too. Recognition of disease or predators or the need for exotic growing conditions is the realm of the trained plant body language expert, the horticulturist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People and animals have a wider repertoire of nonverbal communication than plants. We can move from place to place and make faster, more visible gestures. As humans we can modify our gestures consciously, making voluntary movements as well as displaying unconscious breathing shifts, skin tone changes and micro-muscle movements. We use our bodies to convey interest or disinterest, to establish rapport with others or to stop them in their tracks. We learn cultural norms about appropriate body language for people of our gender, age and status in our daily lives and sometimes find our habitual presentations elicit markedly different responses in other parts of the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what can body language teach us about other people? With sufficient exposure to another culture we can learn to recognise its members by their body language, the way they move and gesture, how close they stand to other people and how much eye contact they make and with whom. We can learn to recognise how any individual, whatever their origin, is thinking by watching their eye movements, breathing and posture as they interact. This will not tell us what they are thinking. The subject matter of someone's thoughts remains private until they describe it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If we observe some interesting body language and ask the person what it means to them, we gain reliable information. If we observe the same person doing the same thing in a similar context in future, we can ask them if it means what they told us last time. This combination of observing a particular person and asking them for meaning for our future reference, is called calibration. We calibrate an individual against themselves in a particular context. In this way we can learn our employers' requirements, our partners' preferences and our pets' idiosyncrasies with some degree of accuracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is an urban myth that we can attribute accurate meaning to body language without calibrating the particular person. This is not useful. Unfortunately the myth has been enshrined in print with examples of body language. Did you know that if a woman points her toe at a man during a conversation she is supposed to fancy him? And what about the old chestnut of folded arms meaning that person is 'closed'? Does a lowered brow and pursed lips really mean someone is annoyed, or could they be thinking, straining or doing something else?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take sexual attraction for example. People do dilate their pupils, flush and lean forward in conversation when they are attracted to someone. They also do it when they are passionately interested in the subject matter, so don't assume it is you, it may be something you are discussing. Of course, that level of interest is conducive to rapport. You may find friendship developing out of a common interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you assume someone is annoyed with you when they go red or white and jump up and down waving their arms in the air, you may attract abuse from them. This is creating a self-fulfilling prophecy. Until you know more from that person, you don't even know they are annoyed. They might be trying to dislodge an insect from down their front or be desperate to go to the WC, and even if they are angry, you might not be the subject of their wrath. Making assumptions about the meaning of people¡s behaviour is called mind reading. We all do it, but some of us have learned to recognise it and use our assumptions to create questions so we can calibrate for the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can use other people's body language to help us create rapport with individuals, groups and at parties. Instead of mind reading, if we place our attention on the other person or people, open our peripheral vision and quieten our internal comments we will notice the rhythm of their whole body movements, speech and gestures. If we match these rhythms with our own bodies we will find ourselves being included in what is going on. This is not the same as literal mimicry. Accurate imitation often gets noticed and objected to. The intent is to match the rhythm by making some form of movement in the same rhythm without attracting conscious attention to it. When we feel included we can test the level of rapport by doing something discreetly different and noticing whether the other or others change what they are doing in response. If they do, you can lead them into a different rhythm or influence the discussion more easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When entering groups or parties, if we observe with open peripheral vision and internal quietness we may be able to spot the peer group leaders. They are the people with others around them, the ones who's movements may be slightly ahead of the others and change first. If we want to influence the whole group, these are the people to match. We may want to establish rapport with each peer group leader individually, or simultaneously. We can do it simultaneously if we are within their visual field and matching their rhythm for a few minutes before engaging them. It is possible to change the direction of quite a large gathering by these methods.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strictly speaking, nonverbal vocal patterns are not body language, but they can be used to establish or break rapport as readily as physical movement. If we match the rate or speed of speech, the resonance, tonality and rhythm used by a person, we will create rapport with them. Again, out and out mimicry is not recommended. Most people will catch it happening. It is more comfortable to match voice patterns at the equivalent pitch in our own range than to attempt note for note matching and to match unfamiliar breathing rhythms with some other emphasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suppose we are voice matching on the telephone and now want to finish the call. The level of rapport is such that it has become hard to disengage. We can change any of the elements we have matched but often the other party simply matches us and carries on. In extreme situations no one minds an abrupt end to a telephone call. How often have we used "there's a call on the other line", "someone's at the door" or "the dog has been sick on the carpet" to end a call without breaking rapport? Then there is the last ditch stand. Cut off the call in the middle of your own speech, not theirs. That way they will assume it was an accident. In person we can make our departure quite firmly and with rapport by doing rapport building with the body and departure with voice patterns or vice versa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And the quickest and simplest way to use body language to establish rapport? Act as if we are totally fascinated by the person or what they are discussing. All the nonverbal signals we could wish for will come on stream by themselves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Article by Jules Collingwood. NLP Trainer&lt;br /&gt;Inspiritive Director&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113601075041226753?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113601075041226753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113601075041226753' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113601075041226753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113601075041226753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/body-language-rapport-and-influence-by_31.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113584683367757449</id><published>2005-12-29T15:56:00.000+07:00</published><updated>2005-12-29T16:18:56.000+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengatasi Perasaan Takut Gagal&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KAWAN &lt;/strong&gt;saya sudah lima tahun berpacaran, tapi belum juga melangsungkan pernikahan. Dia bilang takut bercerai setelah menikah. Sementara tetangga saya ingin sekali mengembangkan bisnis jual beli pakaian seperti pamannya, tapi setelah ditimbang-timbang nggak mulai-mulai. Di bilang takut rugi, apalagi kondisi perekonomian sedang lesu. Kalau untung tidak masalah, kalau rugi kan resikonya cukup besar. Dan banyak lagi cerita-cerita yang sering kita dengar sehari-hari yang intinya takut melangkah karena takut dengan resiko kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan-pandangan tersebut jelas merupakan cara berpikir yang tidak tepat. Hidup ini pilihan-pilihan, kita sendiri yang menentukan jadi apa, apakah jadi pengusaha, pegawai negeri, pedagang, tentara, polisi, wartawan, penyiar radio, konsultan atau apapun profesi yang ada dan setiap pilihan ada resiko-resiko yang mesti ditanggung. Seorang polisi lalulintas misalnya, memiliki resiko berpanas-panasan apabila jalanan macet. Itu benar-benar terjadi di kota-kota besar, sementara seorang wartawan pun tidak lepas dari resiko komplain dari pembacanya apabila beritanya cukup kritis kepada kelompok tertentu. Jadi, profesi apa yang tidak memiliki resiko? Apakah pegawai negeri lantas tidak mempunyai resiko? Tidak juga, pegawai negeri sipil resikonya memiliki pendapatan bulanan yang pas-pasan karena usahanya juga pas-pasan dan sangat minimal. Karena semua profesi rentan dengan resiko, berarti kita harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan jaman dan kompetisi dengan pihak lain dan tidak lantas bermalas-malasan karena merasa pekerjaannya ada di wilayah yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hubungan antara resiko dengan takut gagal? Sebelum membahas resiko dan kegagalan ada baiknya kita membahas dulu cara kerja pikiran kita. Bila ada sesuatu kejadian di luar diri kita, sesuatu kejadian itu sifatnya netral, yang memberikan makna kepda kejadian itu adalah pikiran kita sendiri. Ketika mendengar satu kata, pikiran lantas membuat makna berupa simbol terhadap kata tadi sekaligus membuat makna yang berisi nilai—positif maupu negatif—dari kata tadi. Kalau referensi awal tentang satu kata tersebut negatif, maka setiap mendengar kata tersebut akan negatif terus. Sebaliknya, apabila referensi awalnya positif, akan positif selamanya. Tapi tidak usah khawatir, ada satu cara untuk me-&lt;em&gt;reporgramming&lt;/em&gt; pikiran kita, sehingga &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; awal yang negatif bisa diubah menjadi positif dengan suatu metode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pikiran bisa diprogram, berarti kesuksesan pun apakah bisa diprogram? Betul sekali, kesuksesan bisa diprogram asalkan memiliki komitmen dan kemauan untuk senantiasa memelihara pikiran ke arah yang kita inginkan. Kita mengendalikan pikiran, bukan kita yang dikendalikan oleh pikiran. Sukses misalnya, itu bisa diprogram lewat pikiran dengan cara kita selalu berpikir tentang kesuksesan yang kita inginkan. Contoh, kita ingin menjadi pengusaha yang memiliki keuntungan sebulan Rp50 juta. Namun pada bulan pertama keinginan tersebut belum tercapai. Tapi terus menerus dicoba lagi dan dicoba lagi sampai akhirnya tercapai. Selagi pikiran kita berpikir sukses, maka kemungkinan sukses itu akan datang. Persoalannya hanya waktu yang mungkin tidak sesuai dan secepat yang kira harapkan. Bila kita cukup sabar dan yakin suatu ketika akan sukses, tinggal tunggu waktu saja. Sebab, waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Kita ingin secepatnya mencapai suatu tujuan. Manusia sifatnya tergesa-gesa, terburu-buru, sementara Tuhan sendiri memiliki waktu sendiri. Artinya, selagi orang itu memelihara keinginan disertai dengan usaha dan berdoa, maka suatu ketika akan sampai juga. Problemnya, kita tidak mengetahui jarak tempuh untuk mencapai tujuan kita itu berapa lama. Ini merupakan rahasia Tuhan yang harus dilengkapi dengan senjata optimisme terus menerus. Jadi, sukses = usaha terus menerus + optimisme yang membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita melakukan sesuatu dan belum tercapai, itulah sebenarnya yang menurut kamus orang yang tidak sukses disebut g-a-g-al. Padahal menurut kamus orang sukses, hal itu hanyalah keinginan yang belum tercapai. Keinginan yang belum tercapai tersebut bisa jadi rugi, untung kecil, atau kondisi pasar tidak kondusif. Kondisi-kondisi tersebut dinamakan resiko. Artinya, ketika kita merencanakan sesuatu dalam kehidupan ini, hal apa saja, kemudian kita sudah siap resiko yang paling tidak enak sekalipun, maka pada saat itu juga tidak ada kata g-a-g-a-l. Maju terus pantang mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika sudah mematangkan suatu rencana berikut untung rugi dan resikonya, langkah kedua adalah berbuat. Setelah berbuat, kita akan tahu, mengapa belum tercapai rencana-rencana yang kita tetapkan tadi. Dari sana kita bisa mengetahui penyebabnya mengapa belum tercapai. Tapi kalau belum apa-apa sudah takut melangkah karena takut g-a-g-a-l, dan mengeset pikirannya untuk g-a-g-a-l, maka yang dipikirkannya akan terjadi. Wong sewaktu kita menetapkan tujuan, salah satu resikonya adalah tidak tercapai, mengapa kita merasa takut tujuan itu tidak tercapai. Kalau belum tercapai ya coba lagi dan coba lagi sampai tercapai, titik. Beres kan. Mengapa terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya tidak melakukan perbuatan apa-apa. Lebih baik gagal lima kali, tapi mencoba 15 kali, ketimbang tidak gagal tapi tidak pernah berbuat apapun. Pernahkah kita menghitung berapa kali kita terjatuh sewaktu kita belajar berjalan dulu waktu kecil? Jatuhnya kan tidak dihitung berapa kali, tapi keterampilan berjalannya bisa dirsakan manfaatnya sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe-tipe orang yang tidak mau menghadapi resiko adalah tipe orang yang mencari aman, berada di wilayah &lt;em&gt;comfort zone&lt;/em&gt;. Menurut Robert K. Tiyosaki orang yang berada di &lt;em&gt;comfort zone&lt;/em&gt; adalah kelompok yang berada di kuadran kiri, &lt;em&gt;employee dan self employee&lt;/em&gt;. Setiap bulan dia mendapatkan kepastian finansial. Kerja keras atau tidak keras, pendapatannya tetap segitu-gitu saja sebelum gajinya dinaikkan. Tapi memang secara resiko mereka aman, tidak akan dipusingkan oleh harga-harga di luar yang naik turun, fluktuasi dolar terhadap rupiah. Tapi lagi-lagi "tipe karyawan" --saya sebutkan di sini tipe karyawan, tidak semua karayawan seperti ini karena banyak karyawan yang memiliki usaha sendiri—sangat sulit untuk berkembang, karena dirinya telah membuat tembok-tembok yang kuat untuk membentengi dirinya supaya aman dan nyaman dan tidak ada badai resiko yang bisa tembus ke benteng tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tipe pengusaha, &lt;em&gt;entrepreneur&lt;/em&gt;, adalah orang yang memiliki watak &lt;em&gt;dare to fail&lt;/em&gt; berani gagal (Judul buku Billi PS Liem). Ini adalah dunia yang sebenar-benarnya. Manusia hidup dalam sebuah &lt;em&gt;reality show&lt;/em&gt; yang menarik. Dibutuhkan seni untuk menghadapinya, sehingga kasus demi kasus yang terjadi dapat disikapi dengan tepat dan membawa kita ke arah pola hidup dan cara pikir yang lebih baik lagi. Bagaimana kalau pengusaha tidak berani melangkah, khawatir tujuannya tidak tercapai, terlalu banyak pertimbangan, lebih banyak memikirkan resiko ketimbang fokus ke tujuan. Saya jamin dia akan batal jadi pengusaha. Karena tipe pengusaha itu coba dulu baru evaluasi, bahkan prinsip mereka agak dekat ke nekat-nekat gitu, resiko belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara &lt;em&gt;reality show&lt;/em&gt; di televis yang menguji tentang ketangguhan dan keberanian seseorang apakah &lt;em&gt;fear factor&lt;/em&gt;, atau yang lainnya, cukup positif untuk dijadikan bahan perbandingan kita dalam menginspirasi untuk mencapai tujuan. Hanya yang berani, ulet, tekun, gigih, pantang menyerah dan mental baja sajalah yang dapat menjadi juara alias mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara yang pesimis, &lt;em&gt;negatif thingking&lt;/em&gt;, buruk sangka, mengambil kesimpulan jelek sebelum sesuatu terjadi, dia hanya akan menjadi pecundang yang bisa merugikan dirinya sendiri. Jadi tinggal pilih juga sebenarnya, mau sukses atau mau g-a-g-a-l. Kalau ingin sukses, sekali lagi, pikirkah tentang kesuksesan setip saat, kapan pun dan di mana pun, sebaliknya kalau mau jadi pecundang, pikirlah yang tidak enak-tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, pikiran memiliki hukum-hukum pikiran. Pikiran itu bukan kita dan kita buka pikiran. Pikiran itu sangat liar dan tidak bisa diatur kecuali oleh pawangnya. Hukum pikiran yang pertama, pikirkan segala sesuatu yang ingin kita pikirkan, kedua, hentikan berpikir apabila kita tidak ingin memikirkan sesuatu pikiran, yang ketiga, kontrol pikiran dengan kesadaran. Kesadaran itulah yang menjadi pawang pikiran, asalkan segala pikiran yang muncul dikonfirmasi ulang kepada kesadaran, maka kita akan senantisa berpikir yang kita inginkan. Contoh sederhana, kita berpikir tentang sesuatu, ingin ke luar negeri misalnya karena mendapatkan bonus akhir tahun, kalau kita bertanya ulang kepada diri sendiri, mengapa saya harus ke luar negeri, apa manfaatnya, apakah bukan pemborosan? Setelah ditimbang-timbang ternyata disimpulkan, memang harus ke luar negeri untuk mengadopsi pengalaman dan kultur negeri lain yang sudah maju. Proses berpikir ulang dan menimbang-nimbang itu adalah posisi kesadaran mengontrol pikiran. Demikian halnya apabila kita berpikir tentang keburukan seseorang, tanyakan kembali, mengapa kita harus berburuk sangka pada orang itu, apa manfaatnya, apakah lebih baik berbaik sangka saja karena belum ada bukti yang kuat bahwa orang itu berbuat salah. Proses memikirkan kembali itu adalah posisi kesadaran juga. Di sini kesadaran sudah berbuat sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sebaliknya, berbuat sesuatu yang pikiran inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada gagasan awal, tidak ada alasan untuk takut gagal karena mencoba sesuatu. Kalu mau mencoba ya, lakukan saja kalau sudah melalui tahap pertimbangan yang cukup matang dan tidak lantas terjebak dalam kebingungan, bimbang, ragu dan sikap-sikap sejenisnya. Dan yang perlu dicatat, orang yang berani mengambil resiko hanyalah orang-orang yang sukses. Terserah, tinggal pilih yang mana. Kegagalan atau keberhasilan dimulai dari pikiran kita sendiri. &lt;strong&gt;(*)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: &lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:ade_asep@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;ade_asep@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; atau Hp: +628122670444&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113584683367757449?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113584683367757449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113584683367757449' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113584683367757449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113584683367757449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/mengatasi-perasaan-takut-gagal-oleh.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113567505407271306</id><published>2005-12-27T16:10:00.000+07:00</published><updated>2005-12-27T16:20:15.100+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sistem Kepercayaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMAN saya pada hari Sabtu tidak berani pergi ke luar kota walaupun pada hari itu hari libur dan tidak ada pekerjaan yang begitu mendesak, padahal ia benar-benar ingin mengunjungi sahabat lamanya. Dia rela menunggu satu hari sampai hari Minggu, baru berani keluar kota. Sementara tetangga saya tidak berani membunuh binatang melata karena istrinya sedang hamil. Di tempat lain malah dilarang keluar pada malam Jumat Kliwon, konon banyak setan berkeliaran. Ketika saya tanya alasannya mengapa tidak berani melakukan ini dan itu, mereka hanya menjawab, "Takut terjadi apa-apa, ini keyakinan orang tua yang sudah turun menurun dan tidak boleh dilanggar. Si A pernah melanggar dan ia menghadapi akibatnya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas adalah salah satu bentuk sistem keyakinan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat dan diyakini secara turun temurun. Dalam mindset-nya sudah ada program, "Jangan ini kalau tidak mau terjadi itu, jangan melakukan A kalau tidak mau akibat B." Dan bila dilanggar, yang diyakininya tadi benar-benar terjadi. Ada beberapa orang yang berupaya untuk mencari penjelasan logis, tapi tidak semuanya ditemukan. Seperti, tidak boleh bepergian hari Sabtu karena lalulintas cukup ramai, bila tidak hati-hati bisa terjadi kecelakaan. Tidak boleh keluyuran malam Jumat Kliwon, daripada keluyuran yang tidak membawa manfaat lebih baik berdoa di rumah tau di tempat ibadah. Sementara yang membunuh binatang melata saat istrinya hamil, dalam keyakinannya yang dibunuh itu adalah anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses terjadinya keyakinan tersebut kira-kira, pertama ada informasi masuk ke dalam pikiran. Informasi tersebut datang dari orang yang memiliki otoritas seperti pemuka agama, orang tua, guru. Pikiran didorong untuk mempercayai informasi tersebut. Semua orang yang dekat dengan kita, apakah teman, tetangga juga memiliki pendapat yang sama, informasi tadi mengendap menjadi kepercayaan awal. Seiring dengan berjalannya waktu dan tidak ada pihak yang mengubah atau menentang keyakinan tadi, maka jadilah kepercayaan yang permanen. Kepercayaan yang permanen ini bila dimiliki oleh sekelompok orang maka akan menjadi sistem kepercayaan sebuah komunitas tertentu. Herannya, orang yang hidup dalam generasi kedua atau ketiga, walaupun cukup terpelajar tapi tetap meyakini sistem kepercayaan ini. Satu sisi pikiran sadarnya tidak terlalu yakin atau lebih tepatnya masih ragu, tapi di sisi lain, alam bawah sadarnya sudah yakin lebih dulu karena menerima kepercayaan ini sudah sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sistem kepercayaan secara sederhana adalah proses pikiran yang membuat hukum sebab akibat secara terus menerus, yang diyakini tidak hanya oleh pikiran sadar, namun tembus sampai ke pikiran bawah sadar. Artinya, kita juga dapat membuat sistem kepercayaan baru. Caranya, lakukan terus menerus pengendapan suatu kepercayaan, kampanyekan kepada orang lain terutama kepada orang yang memiliki otoritas, bila sudah banyak pengikutnya, jadilah sistem kepercayaan baru. Dengan catatan, kalau kita ingin membuat sistem kepercayaan baru, maka buatlah sistem kepercayaan tersebut yang positif sehingga dapat mendukung tujuan hidup ke arah yang lebih baik lagi. Lebih afdol lagi kalau sistem kepercayaan tersebut mengambil dasar-dasar keyakinan keagamaan yang sudah ada. Contoh kecil, kalau ingin sukses dan mencapai tujuan hidup maka harus puasa Senin dan Kamis, Kalau ingin dimudahkan rezeki harus Shalat Dluha, untuk melatih kepekaan intuisi dan ditinggikan derajatnya, melaksanakan Shalat Tahajud di sepertiga malam terakhir, untuk memudahkan komunikasi dan negosiasi rutin membaca al Quran dll. Dan contoh-contoh lain yang menggunakan sistem kepercayaan yang berdasar agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mendengar cerita orang-orang dulu yang hebat-hebat. Hanya dengan membaca &lt;em&gt;Basmalah &lt;/em&gt;bisa terbang, hanya dengan menunjuk piring jika lapar makanan datang sendiri, dan ada juga yang bisa menghilang dari pandangan orang lain. Bila sistem kepercayaannya sudah mendarah dan mendaging kemampuan seperti itu tidak mustahil dimiliki orang-orang tertentu termasuk Anda. Tapi bukan tanpa alasan mereka bisa demikian, untuk membangun sistem kepercayaan, mereka melakukan tirakatan, semedi selama berhari-hari, meditasi, sesuai petunjuk guru masing-masing dan mereka sanggup melampaui ujian-ujian tadi dengan hati yang tabah dan tulus. Orang sekarang pun tidak mustahil memiliki kemampuan itu bila cara yang dilakukan sama seperti orang-orang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berniat untuk membahas sesuatu yang klenik, tahayul dan sejenisnya, tapi dasar dari tulisan ini adalah membangun kembali sistem kepercayaan diri yang sudah mulai rapuh. Apakah selama ini kita percaya bahwa kita bisa sukses, bisa mencapai tujuan yang diinginkan, bisa melakukan sesuatu seperti yang dilakukan orang lain. Di sini sebenarnya spirit tulisan saya. Kalau kita tidak percaya pada kemampuan kita sendiri, maka ada sistem kepercayaan yang ada akan hilang atau bahkan mungkin tercerabut. Kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri harus segera ditemukan kembali. Caranya, tetapkan suatu tujuan secara spesifik, kemudian raih sampai berhasil. Lakukan hal yang sama lebih dari lima hal, maka kepercayaan kepada diri sendiri lambat laun akan tumbuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sukses biasanya akan sukses terus, kesebelasan yang menang biasanya akan menang terus, karyawan yang mendapatkan penghargaan biasanya akan mendapatkan penghargaan terus. Sebaliknya orang yang susah, sangat sulit untuk bangkit dari kesusahannya, orang yang kalah juga sulit untuk mendapatkan kemenangan dalam waktu singkat. Untuk memunculkan prestasi dibutuhkan orang yang mampu memompa semangat dan kepercayaan diri. Orang awam biasanya menggunakan jasa paranormal sebagai pihak yang mempunyai otoritas untuk mengubah nasib, orang China dengan jasa ahli Feng Shui dll. Tapi akan lebih baik lagi, kalau kita memiliki sistem keyakinan dengan hukum-hukum pikiran kita sendiri, bukan dari orang lain. Dengan meyakini hukum pikiran, kita tidak mesti datang ke orang lain yang memiliki otoritas untuk membangun suatu keyakinan. Ini yang dinamakan motivasi yang datang secara internal. Sementara orang yang memiliki keyakinan hanya bila orang lain mengatakan sesuatu, sumber motivasi mereka muncul secara eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi internal bisa dimiliki oleh siapapun asalkan memahami hukum-hukum pikiran. Hukum-hukum pikiran adalah, pikiran itu pada dasarnya liar dan harus diatur agar memikirkan sesuatu yang benar-benar ingin kita pikirkan, kemudian menghindari pikiran yang tidak kita inginkan. Dengan kata lain, kita harus mengontrol pikiran sesuai dengan yang diinginkan pemiliknya. Kita harus menjadi tuan dari pikiran kita, jangan sampai kita menjadi budak dari pikiran kita. Satu-satunya cara agar kita berpikir sesuai dengan yang kita inginkan adalah mengontrol pikiran dengan kesadaran. Apa bedanya antara pikiran dan kesadaran? Kita bisa mengetahui apakah itu kerja pikiran atau kerja kesadaran dengan cara, cobalah pikirkan sesuatu hal (ini kerja pikiran), kemudian evaluasi mengapa kita harus memikirkan hal itu (ini kerja kesadaran). Jadi kapan pun dan di man pun kita memikirkan sesuatu hal, secepatnya harus dibarengi dengan pertanyaan, mengapa kita harus memikirkan hal itu. Proses itulah yang dinamakan mengontrol pikiran dengan kesadaran setiap saat. Usahakan segala yang dipikirkan harus atas persetujuan kesadaran, bila kesadaran menyetujui lanjutkan memikirkan sesuatu itu, namun bila kesadaran tidak menyetujui, secepatnya ubah sesuai dengan keinginan kesadaran. Bila proses ini berjalan secara terus menerus maka kita akan mudah membentuk sistem keyakinan yang baru. Untuk membentuk sistem keyakinan yang baru, usahakan kebiasaan tersebut dilakukan minimal 21 hari, baru akan melekat dalam alam bawah sadar sehingga kita akan mengerjakannya sesautu itu tanpa kendali pikiran sadar lagi, tapi akan secara otomatis dilakukan atas kontrol alam bawah sadar. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: &lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:ade_asep@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;ade_asep@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; atau Hp: +628122670444.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113567505407271306?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113567505407271306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113567505407271306' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113567505407271306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113567505407271306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/sistem-kepercayaan-oleh-ade-asep.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113558283083131142</id><published>2005-12-26T14:40:00.000+07:00</published><updated>2005-12-26T14:42:44.213+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Who am I?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDUL di atas mirip dengan sebuah film yang dibintangi aktor laga dari Hong Kong Jackie Chan. Dalam film itu diceritakan, Jackie terkena sebuah penyakit sampai dia lupa kepada dirinya sendiri. Kita juga akan mengalami hal yang sama seperti Jackie Chan, bila tidak melakukan up date setiap saat kepada diri sendiri terutama up date proses pembelajaran. Siapakah diri kita sebenarnya? Apa kelebihan-kelebihan yang dimiliki? Apa kekurangan yang bisa dan tidak dapat diubah lagi? Apakah tujuan yang hendak dicapai? Mengapa orang lain bisa sukses, kita tidak? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan inspiratif yang harus senantiasa ditanyakan kepada diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam bahasa psikologi pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah pertanyaan tentang pemahaman akan potensi diri. Mengapa pemahaman ini penting? Sebab di sekeliling kita masih banyak orang yang merasa bingung, tidak tahu harus berbuat apa, hanya gara-gara dia tidak mengetahui kemampuan dirinya, peluang yang sudah ada di depan mata ia tinggalkan begitu saja. Akhirnya yang muncul adalah rasa tidak percaya diri, rendah diri, pesimis, takut gagal dan penyakit-penyakit mental linnya. Padahal kalau kita perhatikan, manusia sejak awal sudah ditakdirkan untuk menjadi juara. Ketika pembuahan sperma ke sel telur kemudian sampai lahir seoarang bayi, itu merupakan kemenangan mutlak bagi manusia. Ketika lahir sudah dibekali dengan dua mata yang normal, dua telinga, dan struktur tubuh yang lengkap secara faal, itu pun merupakan indikator kemenangan. Apabila masih tidak memahami potensi diri maka akan sulit juga menentukan arah hidup yang tepat ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada waktu senggang yang tidak diganggu orang lain, cobalah berdiri di depan cermin yang cukup besar yang bisa dengan jelas kita melihat postur tubuh kita sendiri. Coba lihat perawakan kita mulai dari potongan rambut ada yang lurus, ikal, panjang atau pendek. Lihat bentuk kepala, bagian tubuh yang satu ini merupakan bagian yang sangat berharga karena di sini tersimpan semua memori, kesadaran, keinginan, hasrat, pikiran, emosi, perasaan dll. Di kepala inilah tersimpan komputer dengan memori bertriliun &lt;em&gt;giga byte&lt;/em&gt; dan spesifikasi super canggih bila dibandingkan dengan computer paling mutakhir sekalipun. Dalam otak ada pikiran sadar (&lt;em&gt;conscious mind&lt;/em&gt;) dan bawah sadar (&lt;em&gt;sub conscious mind&lt;/em&gt;) yang menyimpan berjuta-juta file sejak kita lahir sampai sekarang. File-file tersebut dapat dipanggil kembali sewaktu-waktu kita membutuhkan dengan suatu cara yang sederhana. Dalam otak juga ada pusat pengendalian pikiran yang bisa menggerakkan otot-otot saraf seluruh tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di kepala, ada dua mata, dua telinga, mulut, lidah. Ke bawah sedikit ada leher yang menyambungkan kepala dengan badan. Di dalamnya ada bagian yang menghubungkan ke rongga pernafasan sampai paru-paru dan ada bagian yang masuk ke pencernaan. Di bagian tengah tubuh ada jantung yang berdetak tanpa komando pikiran sadar, sudah otomatis digerakkan oleh alam bawah sadar yang mengedarkan aliran darah ke seluruh tubuh. Jadi fisik manusia benar-benar sempurna, antara orang yang satu dengan orang yang lain secara performance tidak ada perbedaan. Jadi tidak ada alasan untuk merasa rendah diri, minder, inferior. Malah harus sebaliknya bangga dengan diri sendiri ---tanpa harus terjebak dengan sikap sombong—dan dapat memaksimalkan potensi diri yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita mendengar orang cacat yang sukses? Banyak cerita membuktikan bahwa cacatnya seseorang tidak lantas membuat dirinya larut dalam kekurngannya. Bahkan kekurangannya sekaligus merupakan kelebihannya. Hellen Keller misalnya, ada adalah orang yang tidak dapat mendengar dan melihat. Namun apakah ia larut dalam kefrustrasian? Ternyata tidak, ia bahkan menjadi professor di sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Ia bahkan menemukan cara membaca bagi orang yang buta dan tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam cerita lain, pada tahun 1986 di New York diadakan lomba marathon internasional yang diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini mengambil jarak 42 kilometer mengelilingi kota New York. Jutaan orang dari seluruh dunia ikut menonton acara tersebut melalui puluhan televisi yang merelainya secara langsung. Ada satu orang yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob adalah seorang veteran perang Amerika, dan dia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang di Vietnam. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan.Singkat cerita Bob Willem, orang cacat tanpa kaki tersebut mampu melewati garis finish walaupun dengan kondisi tangan yang luka-luka dan waktu mencapai finish cukup lama. Peserta lain malah naik bus panitia karena merasa tidak kuat lagi untuk melanjutkan pertandingan tersebut. Namun yang menarik, ketika Bob diwawancarai ia berkata, "Saya bukan orang hebat. Anda tahu saya tidak punya kaki lagi. saya hanya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Saya hanya mencapai apa yang telah saya inginkan. Dan kebahagiaan saya dapatkan bukan dari apa yang saya dapatkan, tapi dari proses untuk mendapatkannya. Selama lomba, fisik saya menurun drastis. Tangan saya sudah hancur berdarah-darah. Tapi rasa sakit di hati saya terjadi bukan karena luka itu, tapi ketika saya memalingkan wajah saya dari garis finish. Jadi saya kembali fokus untuk menatap goal saya. Saya rasa tidak ada orang yang akan gagal dalam lari marathon ini. Tidak masalah anda akan mencapainya dalam berapa lama, asal anda terus berlari. Anda disebut gagal bila anda berhenti. Jadi, janganlah berhenti sebelum tujuan anda telah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa kan, dan banyak lagi ceritaa-cerita inspiratif yang bisa dijadikan bahan renungan bagi kita bahwa kita memiliki potensi dan kemampuan yang luar bisa asalkan kita memiliki keinginan disertai kemauan untuk mewujudkannya dan jangan pernah mengatakan berhenti sebelum keinginan kita itu benar-benar tercapai. Jadi cacat atau sempurnanya fisik bukan ukuran seseorang bisa mencapai cita-cita dan tujuannya. Kalau yang cacat mampu meraih tujuan-tujuannya, sementara yang sempurna tidak bisa, siapa sebenarnya yang cacat? Menyakitkan memang kalau yang cacat secara fisik mampu memiliki kelebihan, sementara kita yang secara fisik sempurna tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karenanya, kenali diri sendiri, gali potensi, munculkan ke permukaan, nyatakan dengan tegas, "Saya bisa, saya bisa…" secara berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk sempurna yang memiliki kelebihan secara fisik, mental, dan spiritual. Secara fisik, kebutuhan-kebutuhan sehari-hari yang diperlukan dengan mudah dapat dipenuhi. Ketika lapar dapat langsung makan, haus langsung minum, kepanasan langsung berteduh. Sementara ketika lapar secara mental dan spiritual tidak semua orang sensitive terhadap kebutuhan ini. Padahal mental dan spiritual pun perlu makan seperti layaknya fisik makan, hanya jenis makanannya yang berbeda. Fisik makan nasi, mental dan spiritual dalah latihan menahan emosi dan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Oleh karenanya, buatlah catatanm harian tentang kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tadi, sehingga kita akan cermat kebutuhan mana yang belum dipenuhi oleh kita. Bila kebutuhan-kebutuhan tadi dipenuhi secara rutin, maka kita akan menjadi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun memiliki kelebihan, maka temukanlah kelebihan tersebut dan kembangkanlah secara optimal. Ada yang memiliki kelebihan menjadi olahragawan, pemusik, penulis, guru, dll. Catatannya, kelebihan-kelebihan tadi harus diraih sampai ke puncak prestasi, jangan sampai tanggung untuk memperjuangkannya, sampai kita memiliki kepuasan batin bila mampu dengan tangan sendiri mencapainya. Jadi jangan mempunyai keraguan, Anda adalah orang yang hebat, orang yang luar biasa, orang yang penuh dengan kelebihan, temukan kelebihan tadi. Jadi, "&lt;em&gt;Who am I? I am the best person&lt;/em&gt;." (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;*) &lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: &lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:ade_asep@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;ade_asep@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; atau Hp: +628122670444.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113558283083131142?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113558283083131142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113558283083131142' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113558283083131142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113558283083131142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/who-am-i-oleh-ade-asep-syarifuddin.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113539640110194580</id><published>2005-12-24T10:52:00.000+07:00</published><updated>2005-12-27T16:24:34.303+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menggagas &lt;em&gt;University of Life&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;(Dari Pencarian Jati Diri sampai Minum Air Garam)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK orang yang menyebut "Universitas Kehidupan" atau &lt;em&gt;University of Life &lt;/em&gt;untuk menggambarkan proses belajar yang secara terus menerus dilakukan dalam hidup ini baik secara teoritis dengan membaca buku maupun lewat pengalaman sehari-hari. Tidak ada silabus, dosen, nilai dan faktor-faktor formalitas lainnya yang dapat mengganggu kreatifitas dan kebebasan berpikir seseorang. Tapi dari sana ditemukan banyak pelajaran, nilai, pandangan hidup bahkan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan silabus tidak tertulis bagi yang menemukannya yang tersimpan rapi di alam bawah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan formal termasuk perkuliahan selama ini memiliki kecenderungan untuk melakukan proses "pembodohan" kepada para peserta didik dan mahasiswanya. Tidak heran kalau produk yang ditelorkan adalah manusia bingung dan gagap dalam menghadapi hidup ini. Mereka bisa jadi jago dalam pelajaran di sekolah dan kampus, namun setelah lulus malah bingung melihat realitas kehidupan yang terjadi di depan matanya. Teori-teori yang diajarkan di kampus sama sekali tidak dapat menjawab persoalan yang dihadapinya. Mereka harus belajar kembali di bangku "Universitas Kehidupan" yang jauh lebih sulit untuk lulus dan diwisudanya daripada di universitas formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, dalam kehidupan ini untuk mencapai tujuan tertentu dibutuhkan mata kuliah Kesabaran, Keuletan, Kegigihan, Optimisme yang masing-masing memiliki bobot lebih dari 4 SKS dan tidak ada garansi lulus tepat pada waktunya. Mungkin mengulang sampai empat kali juga bisa jadi belum lulus. Sebab indikator kelulusannya berbeda dengan kampus formal yang bisa mendapat nilai C, B, A atau A+. Bahkan konon di beberapa universitas tidak usah kuliah pun bisa mendapat nilai A alias nyogok dengan uang, sesuatu yang ironi tapi memang benar-benar terjadi. Sementara di University of Life, indikator kelulusannya harus diuji oleh banyak dosen-dosen yang jumlahnya sangat banyak di sekeliling kita. Hal di atas baru pada MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), untuk lulus sulitnya setengah mati. Apalagi kalau maau mengambil Mata Kuliah Keterampilan, tingkat kesulitannya lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya gagasan, entah ini rasional atau tidak, ide waras atau ide gila untuk sedikit memformalkan &lt;em&gt;University of Life&lt;/em&gt;, tanpa sedikit pun bermaksud memberangus ide dan kreatifitas serta kelebihan-kelebihan para mahasiswanya. Kepentingannya, setiap orang yang sudah lulus di "Universitas Kehidupan" kalau tidak ditularkan akan sangat sayang sekali. Padahal dia sudah lulus, diwisuda oleh masyarakat dan menjadi guru besar di Universitas Kehidupan yang sebenarnya. Saya sudah merancang format pendidikan plus silabusnya. Walaupun demikian, ini masih dalam tahap uji coba yang harus terus menerus diperbaiki, didiskusikan dan bila perlu diubah secara total kalau dalam perjalanan tidak sejalan dengan cita-cita humanisme yang adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkuliahan minimal diselenggarakan dalam 6 bulan. Tiga bulan pertama mahasiswa diberikan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Isi silabusnya kira-kira, pada Bagian Pertama dipaparkan tentang proses Pencarian Jati Diri dan membuka kelebihan-kelebihan yang telah dimiliki manusia namun belum dioptimalkan, kemampuan untuk menangkap kecenderungan individu tentang minat dan hobbinya sejak awal, sehingga dia yakin masa depannya sudah diketahui sejak awal. Konon Bill Gates sudah tahu sejak usia 7 tahun bahwa masa depannya adalah menggeluti komputer. Tidak heran kalau dari awal komputerlah yang dia geluti sampai sekarang menjadi deretan orang terkaya di dunia. Selama ini banyak di antara kita ketika ditanya apa tujuan hidupnya, 90% akan menjawab tidak tahu. Karena memang sejak awal tidak diajarkan untuk memiliki tujuan hidup yang sesuai dengan minatnya. Apalagi memiliki kalender kegiatan harian yang jelas untuk mencapai tujuan tadi. Setelah menemukan tujuan yang spesifik, silabus tadi mengarahkan mahasiswanya untuk membuat komitmen kepada dirinya bahwa tujuan tersebut harus dicapai apapun yang akan terjadi. Kalimat yang paling pas menurut saya adalah, &lt;em&gt;Do it now or die&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian kedua silabus tersebut berisi tentang Mentalitas Sukses. Terdiri dari, Berpikir Positif, Disiplin diri yang Tinggi, &lt;em&gt;Self Confidence&lt;/em&gt;, Optimis, Konsisten, Ulet dan Tangguh. Pada bagian ini yang menjadi titik tekan adalah mengubah sudut pandang pikiran yang liar ke arah sudut pandang tertentu. Bagaimana caranya menghadapi situasi apapun, di mana pun, enak dan tidak enak, nyaman dan tidak nyaman, menghadapi semua hal tadi kita memiliki kemampuan untuk mempositifkan segala sesuatu yang terjadi walaupun secara pandangan awam dirasakan tidak enak. Ada sebuah cerita menarik yang bisa menjelaskan tentang sudut pandang negatif dan positif. Alkisah seorang pemuda tanggung mengadu kepada seorang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Pemuda itu merasa bahwa dalam seumur hidupnya tidak pernah merasa bahagia, susah terus, banyak persoalan, hinaan, kekecewaan, yang semuanya terasa tidak enak. Dia merasa bahwa Tuhan tidak adil. Tapi semakin sering protes kepada Tuhan, hatinya makin terasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua bijak itu tidak langsung menjawab. Dia menyuruh pemuda itu mengambil dua genggam garam kasar dari dapur. Satu genggam dimasukkan ke gelas yang sudah berisi air dan diaduk-aduk. "Minum," tutur orang tua itu. Dengan sedikit bingung namun tidak berani protes, pemuda itu meminum juga air garam tadi walaupun hanya sedikit. "Asin, asin sekali," katanya sambil meringis. Kemudian orang tua tadi mengajak ke belakang rumah. Pemuda tadi makin bingung, "Mengapa aku konsultasi dengan orang tua macam ini, bukannya mendapat penjelasan malah disuruh minum air garam," gerutunya, tapi tidak berani menolak. Sesampainya di belakang rumah, ada danau yang cukup luas, airnya tenang dan banyak ikan di dalamnya. Orang tua tadi menyuruh garam dalam genggaman yang kedua ditaburkan ke danau. Sekali lagi dia mengulangi persis seperti perintah pertama, "Minum air danau itu." Pemuda itu meminumnya. "Apakah terasa asin?" kata orang itu lagi. Pemuda tadi hanya menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah kehidupan nak. Garam yang berada di segelas air akan terasa asin jika diminum. Sementara bila garam itu ditaburkan ke dalam air yang lebih banyak, tidak ada pengaruh apa-apa.Garam itu ibarat persoalan hidup dan air ibarat ini," katanya sambil memegang dadanya yang menunjukkan hati. Kalau persoalan dihadapi dengan hati yang sempit seperti sempitnya air di dalam gelas, maka akan sangat membebani pikiran. Sebaliknya kalau hati kita lapang, positif thinking seberat apapun persoalan yang datang akan diterima dengan perasaan yang lega dan tenang. Dengan demikian, sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan sikap mental yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ketiga, silabus tersebut berisi tentang pentingnya mengaca dan mengambil pelajaran dari alam. Bagaimana perjalanan air dari hulu ke hilir menghadapi medan yang tidak mudah. Ada bebatuan, jurang, bahkan tembok kokoh yang menghadangnya. Apakah air berhenti mengalir? Tentu tidak, dia sampai juga di muara menuju lautan lepas. Atau kalau dia melewati sungai yang kering, dirinya akan berubah ujud menjadi awan, kemudian turun di sustu tempat dalam bentuk hujan. Ketika air menghadapi tembok yang kokoh, ia kumpulkan teman-temannya sebanyak mungkin, sampai air tadi melampaui tembok yang menghalanginya. Atau bila perlu, air bisa menjebol tembok tadi sampai roboh. Atau cerita lain, ulat yang ingin menjadi kupu-kupu, ia harus bertapa dan mengurung diri di dalam kepompong selama berhari-hari, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Bila belum saatnya tapi sudah dibuka, ulat itu tidak menjadi kupu-kupu sampai kapan pun. Kisah ulat dalam proses metamorfosis juga sama, untuk mencapai satu tujuan diperlukan perjuangan bahkan sampai menyendiri, menyepi di suatu tempat sampai menemukan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Keempat berisi kisah-kisah sukses beberapa orang terkenal. Diantaranya, Bill Gates, Michael Jordan, Hellen Keller, Honda, Muhammad Ali dll. Setiap orang bisa menjadi sukses. Tidak ada alasan usia, pendidikan, keturunan, hoki, yang bisa menghambatnya. Bila sungguh-sungguh maka dia akan menemukan jalan keluar. Sebaliknya bila bermalas-malasan dan tidak memiliki tujuan yang jelas, kegagalan sudah ada di depan mata. Di bagian keenam dipaparkan langkah-langkah untuk mencapai sukses, sampai ada ungkapan, Dream become True.&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan tiga bulan pertama, maka pada tiga bulan berikutnya mereka sudah diarahkan kepada minat masing-masing. Apakah minatnya ke bisnis atau entrepreneur, public speaking, leadership, olah raga dll. Kita arahkan semua minat tersebut sampai mereka sukses. Apakah ini bisa menjadi sebuah model dari &lt;em&gt;University of Life&lt;/em&gt;? Hanya waktu yang bisa membuktikannya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silabus &lt;em&gt;University of Life&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who am I ?&lt;br /&gt;Menggali Personal Excellent untuk Mencapai Tujuan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prawacana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 1 : Mencari Jati Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who am I&lt;br /&gt;What should I do for me&lt;br /&gt;What is my aim&lt;br /&gt;Do it now or die&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 2: Mengubah Sudut Pandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan&lt;br /&gt;Kegagalan&lt;br /&gt;Ketakutan&lt;br /&gt;Kecemasan&lt;br /&gt;Buruk Sangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 3: Mentalitas Sukses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Positif Thinking&lt;br /&gt;Disiplin&lt;br /&gt;Percaya Diri&lt;br /&gt;Optimis&lt;br /&gt;Konsisten&lt;br /&gt;Ulet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 4: Belajar dari Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi Air&lt;br /&gt;Filosofi Kupu kupu&lt;br /&gt;Filosofi Matahari&lt;br /&gt;Filosofi Lebah&lt;br /&gt;Filosofi Burung&lt;br /&gt;Filosofi Semut&lt;br /&gt;Filosofi Rayap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 5: Kisah-kisah Sukses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honda&lt;br /&gt;Bill Gates&lt;br /&gt;Muhammad Ali&lt;br /&gt;Michael Jordan&lt;br /&gt;Hellen Keller&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 6: Tujuh Langkah yang Menentukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukan Minat&lt;br /&gt;Pelihara Impian&lt;br /&gt;Ciptakan Tool Pengingat&lt;br /&gt;Visualisasi Kreatif&lt;br /&gt;Konsep Diri Positif&lt;br /&gt;Mengantongi "Jimat" Keyakinan&lt;br /&gt;Keajaiban Pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog: Dream Become True&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: &lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:ade_asep@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;ade_asep@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; atau Hp: +628122670444.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113539640110194580?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113539640110194580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113539640110194580' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113539640110194580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113539640110194580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/menggagas-university-of-life-dari.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113524253434756114</id><published>2005-12-22T16:06:00.000+07:00</published><updated>2005-12-22T16:37:59.846+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Komitmen, Membeli Harga Sebuah Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PADA&lt;/strong&gt; suatu hari, ketika membuka e-mail, saya terperanjat. Sahabat, sekaligus partner diskusi saya mengirim artikel plus cover buku yang akan diterbitkan oleh sebuah penerbit yang cukup prestisius. Apa yang dia katakan? Sederhana saja, "Ini cover buku saya yang akan diterbitkan, kapan buku anda terbit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana respons saya? Darah serasa mengalir dengan cepat. Ada rasa "iri", kaget, malu dan perasaan lainnya yang intinya mempertanyakan mengapa saya tidak bisa melakukan seperti yang dia lakukan. Padahal, menulis buku dan menerbitkannya merupakan obsesi saya sejak remaja. Sampai sekarang belum terwujud, yang saya lakukan hanyalah menulis artikel kemudian dimuat di media massa setelah itu selesai. Tapi untuk menerbitkannya belum juga kesampaian. Tiga tahun yang lalu tawaran serupa pernah datang. Ada seorang sahabat yang cukup dekat secara pemikiran menawarkan untuk menulis buku karena dia memiliki saham mayoritas di sebuah penerbitan. Tapi lagi-lagi tawaran itu tidak sampai terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari saya merenung, mengapa peluang-peluang yang datang lewat begitu saja, padahal sudah jelas-jelas ada di hadapan mata. Kini orang lain dengan santai berkata, kapan buku anda terbit. Persis seperti saya mengendarai mobil kemudian mogok, sementara orang di belakang mengendarai sepeda dan berkata, "Maaf ya, saya mendahului". Sesuatu yang saya rasakan "menyakitkan" tapi sekaligus menjadi pemacu dan pemicu. Saya coba merenung dan mengevaluasi diri sendiri. Apa sebenarnya yang menjadi penyebab tidak terwujudnya rencana-rencana yang sudah ada tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen. Ya, komitmen. Apa artinya? Komitmen menurut saya keberanian untuk memiliki tujuan yang jelas dan terus menerus memelihara tujuan tersebut sampai tercapai. Bagaimana kalau di tengah perjalanan ada hambatan, apakah tidak bisa mengatur waktu, sulit mencari ide atau sejuta alasan lainnya? Itu berarti belum memiliki komitmen. Wong komitmen itu ibarat mencintai seseorang sampai mati, ke mana pun pergi teringat selalu, wajahnya terbayang-bayang di pelupuk mata, ke manna-mana seolah bersama-sama. Badan boleh jauh, hati tetap dekat. Hanya satu yang dapat menghentikan mengingat sang kekasih, nyawa terlepas dari raga. Bila komitmen terhadap tujuan sudah seperti komimten kepada sang kekasih, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi tercapainya keinginan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cover buku yang dikirim tadi saya print out. Kemudian saya pasang di tembok sekelilingnya direkatkan dengan lakban. Setiap saya masuk kamar dan melihat cover depan dan belakang buku itu dalam hati saya berkata, 12 bulan ke depan saya menulis 3 buah buku sekaligus. Tekad itu saya ulang-ulang terus setiap hari, setiap mau tidur, setiap bangun tidur dan ke mana pun akan pergi. Dengan harapan keinginan tadi masuk ke dalam alam bawah sadar, sehingga ketika memegang keyboard langsung dapat menemukan ide menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau setiap orang memegang komitmen, maka tidak ada alasan untuk tidak sukses, tidak ada alasan untuk tidak mencapai tujuan. Memang ada syarat-syarat yang harus dilalui, sehingga komitmen itu mendarah daging masuk ke dalam sumsum. Caranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nyatakan komitmen dengan disertai emosi. Kalau perlu nyatakan komitmen itu di dalam ruangan, usahakan kondisi ruangan setengah gelap sehingga tidak dapat melihat sekeliling secara nyata. Tulis besar-besar tujuan yang ingin dicapai pada kertas putih, tempelkan di tembok. Tulis akibat yang paling buruk di kertas putih juga, apabila tujuan itu tidak tercapai. Contoh sederhana, "Tahun depan saya menulis 3 buah buku best seller." Sementara pernyataan satunya berbunyi, "Apabila tidak menulis 3 buah buku maka tidak ada lagi kesempatan sampai kapanpun." Ambil senter, arahkan cahaya ke kertas pertama, bacakan berkali-kali sampai merasakan ada getaran lembut dari dalam. Setelah selesai arahkan ke kertas yang kedua, baca berkali-kali juga. Untuk yang kedua usahakan sampai ke tingkat emosi yang lebih tinggi usahakan sampai menangis. Ulangi hal ini setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nyatakan keinginan kita kepada orang-orang yang sekiranya dapat mendukung tujuan kita. Apakah kepada orang yang pernah menulis buku, orang yang memiliki ide yang sama tentang minat kita dan orang-orang sukses lainnya. Bila perlu diskusi dan sharing ide siapa tahu dia memiliki ide yang lebih maju. Bila sebaliknya, mendekati orang-orang yang tidak seide, maka siap-siap saja menerima ledekan. Mereka akan mengatakan, "Kamu ada-ada saja, bekerja saja yang baik jangan terlalu banyak mengkhayal," atau ledekan lain, "Hentikan saja keinginanmu itu, saya yakin tidak akan terwujud." Bila kita termakan omelan mereka, saat itu juga niat untuk menulis buku tidak akan dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Terus menerus visualisasikan dalam berbagai kesempatan, seolah-olah keinginan kita sudah terwujud. Jangan lupa beri batasan waktu yang jelas. Ini penting supaya alam bawah sadar kita merekam secara spesifik juga. Lebih mantap lagi kalau terus diafirmasi untuk menciptakan auto sugesti, "Tahun depan saya menerbitkan 3 buah buku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Manajemen waktu jangan dilupakan. Banyak orang yang merasa tidak berbuat apa-apa karena keterbatasan waktu. Padahal setiap orang memiliki waktu yang sama 24 jam sehari semalam. Tapi mengapa ada orang yang sukses dan ada juga orang yang tidak sukses. Oleh karenanya, daftar agenda harian yang berisikan rencana hari itu mau ke mana menjadi penting dan harus komit dilaksanakan. Kerjakan yang penting dan sudah direncanakan, tinggalkan yang tidak penting dan membuang-buang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila komitmen dipegang, tidak ada istilah gagal. Kegagalan hanya terjadi apabila pikiran kita mengatakan gagal. Sebaliknya, kalau pikiran kita terus mengatakan coba lagi-coba lagi maka dalam waktu itu pula kesempatan untuk berhasil terbuka lebar di depan mata. Jangan tanya berapa kali usaha anda tidak terwujud, tapi tanyakan, berapa kali anda bangkit lagi setelah mengetahui bahwa tujuan anda belum tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneguhkan komitmen bisa juga dilakukan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan &lt;em&gt;tool&lt;/em&gt; pengingat. Ada yang menggunakan &lt;em&gt;tool&lt;/em&gt; pengingat berupa benda-benda fisik, bisa juga dengan membuat tradisi sehari-hari. Contoh, ada orang yang ingin mencapai sebuah tujuan menikah dengan kekasihnya menggunakan &lt;em&gt;tool&lt;/em&gt; pengingat cincin yang melekat di jari manisnya. Sehingga ketika melihat cincin, dia teringat akan komitmen cintanya dan memvisualisasikan seolah-olah dia sudah menikah. Ada juga yang menggunakan &lt;em&gt;tool&lt;/em&gt; selendang yang dipakai setiap hari dan dibawa ke mana-mana. Dia memiliki keyakinan dengan membawa terus selendang pemberian kekasihnya, maka dia yakin akan menikah dengannya. Dan masih banyak lagi tool-tool yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya sekarang, sudahkah anda memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan anda, kapan batas akhir merealisasikannya, bagaimana cara mengerjakannya, apa hambatannya, sejauhmana komitmen anda yang bisa menjadi alat untuk membeli tujuan anda? Kalau sudah lanjutkan sampai tercapai. Bila sudah tercapai boleh berkata kepada saya dan ceritakan bagaimana perjuangan mencapai tujuan tadi. Sebaliknya apabila belum memiliki tujuan, maka temukan minat anda apa dan buatlah sekarang juga tujuan tersebut disertai rentang waktu yang terukur. Salam sukses. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah trainer yang berbasiskan NLP, motivator SDM. Kini tengah menggagas "University of Life". Universitas tersebut hanya ada satu fakultas, Fakultas Personal Excellent. Jurusannya cukup banyak, ada Jurusan Personal Excellent for Entrepreneur, Personal Excellent for Business, Personal Excellent for Public Speaking, Personal Excellent for Great Teacher, Personal Excellent for Great Student, Personal Excellent for Leadership, Personal Excellent for Selling etc. etc. Selain menekuni training SDM, ia juga adalah General Manager pada Harian Radar Banyumas di Purwokerto. Dia dapat dihubungi lewat e-mail: &lt;a href="mailto:ade_asep@yahoo.com"&gt;ade_asep@yahoo.com&lt;/a&gt; atau Hp: +628122670444.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113524253434756114?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113524253434756114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113524253434756114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113524253434756114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113524253434756114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/komitmen-membeli-harga-sebuah-tujuan.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113402600833403702</id><published>2005-12-08T14:02:00.000+07:00</published><updated>2005-12-08T14:16:35.340+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hypnosis – The Art of Subconscious Communication&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Adi W. Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masyarakat Indonesia mulai mengenal hipnosis, baik dari pertunjukkan di televisi maupun dari pemberitaan di berbagai media masa. Seiring dengan semakin gencarnya publikasi, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai informasi yang tidak tepat atau bahkan salah mengenai hipnosis. Beberapa pandangan yang salah tentang hipnosis, yang beredar di masyarakat, antara lain, hipnosis adalah praktek supranatural atau klenik, hipnosis sama dengan gendam atau kejahatan, hipnosis adalah penguasaan pikiran, hipnosis adalah ilmu sesat yang menggunakan kekuatan mahluk halus, dan hipnosis adalah sama dengan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hipnosis seperti itu ? Tentu tidak. Pandangan yang salah tentunya akan sangat merugikan masyarakat. Masyarakat yang tidak mengerti hipnosis yang sebenarnya akan menutup diri dan menolak mempelajari hipnosis, dan tentunya tidak akan bisa mendapatkan manfaat luar biasa dari praktek hipnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipnosis adalah suatu cabang ilmu yang terus berkembang. Di luar negeri, khususnya di Amerika, hipnosis telah diajarkan secara resmi di berbagai lembaga pendidikan terkemuka. Meskipun ada sangat banyak pakar yang menjelaskan atau menulis tentang hipnosis, apabila diteliti dengan cermat, apa yang mereka jelaskan selalu mengacu pada satu konsep dasar. Konsep dasar ini yang harus dikuasai untuk bisa mengerti dengan benar hipnosis dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya sebelum saya mempelajari hipnosis, saya juga mempunyai pandangan yang negatip terhadap hipnosis. Namun setelah mendalami dengan sungguh-sungguh, saya akhirnya mengerti, jatuh cinta, dan dapat memetik manfaat yang luar biasa dari cabang ilmu ini, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk membantu orang lain.&lt;br /&gt;Lalu, apa sih sebenarnya hipnosis itu ? Apa bedanya dengan hipnotis dan hipnotisme? Kata hypnosis berasal dari kata hypnos, yaitu dewa tidur pada mitologi Yunani. Hipnosis adalah ilmunya, hipnotis adalah orang yang melakukan hipnosis, sedangkan hipnotisme sama dengan hipnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipnosis berhubungan dengan kondisi kesadaran seseorang pada satu waktu tertentu. Tidak ada unsur klenik sama sekali. Sesuai dengan judul artikel ini maka hipnosis sebenarnya merupakan seni komunikasi dengan pikiran bawah sadar. Dulunya saya tidak percaya bahwa hipnosis adalah suatu seni komunikasi. Namun setelah saya mempraktekkan hipnosis baik untuk diri sendiri maupun dengan orang lain maka saya akhirnya sadar bahwa memang benar bahwa hipnosis adalah seni komunikasi bawah sadar. Kondisi hipnosis sebenarnya identik dengan gelombang otak alfa dan theta. Gelombang alfa berada pada kisaran 8 – 12 Hz dan theta pada 4 – 8 Hz. Saat seseorang berada dalam kondisi trance maka kisaran gelombang otaknya pasti berada di antara alfa dan theta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang dalam satu hari minimal pasti berada dalam kisaran gelombang ini yaitu saat mau tidur dan saat baru bangun tidur. Secara alamiah saat kita mau tidur gelombang otak akan turun dari beta, ke alfa, ke theta, dan akhirnya di delta (tidur pulas tanpa mimpi). Demikian pula sebaliknya. Saat kita bangun tidur maka gelombang otak akan naik dari delta, ke theta, ke alfa, dan akhirnya di beta atau sadar penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih hipnosis itu ? Sebenarnya setiap hari kita mengalami kondisi hipnosis. Anda pasti pernah nonton film, bukan ? Saat adegan film sedang seru-serunya anda pasti merasa tubuh anda menjadi tegang, napas berubah, dan jantung anda berdebar lebih kencang. Mengapa ? Bukankah anda tahu bahwa apa yang sedang anda tonton bukanlah suatu kejadian nyata ? Pikiran sadar anda tahu bahwa film itu bukan sesuatu yang nyata. Namun pikiran bawah sadar anda menerima apa yang anda lihat dan alami sebagai suatu hal yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menonton film, perhatian anda sangat terpusat pada apa yang sedang berlangsung di layar sehingga anda mem-blok suara-suara lain, misalnya suara batuk penonton lainnya, atau suara handphone yang berbunyi. Pada saat ini anda sangat sadar dengan keberadaan diri anda yang sedang menonton film. Semua sensasi atau perasaan yang anda rasakan saat menonton film, misalnya perasaan sedih, gembira, kecewa, marah, jengkel, atau bahagia merupakan hasil dari kerja pikiran bawah sadar anda. Saat itu anda sebenarnya berada dalam kondisi hipnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah anda dikendalikan oleh film yang anda tonton ? Tentu tidak ! Film itu tidak mengendalikan diri anda tetapi mengarahkan pikiran anda dengan alur ceritanya. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan keadaan hipnosis atau trance. Berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang, yang mengatakan bahwa saat dalam kondisi hipnosis atau trance kesadaran seseorang sangat lemah, saat dalam kondisi trance level kesadaran seseorang justru meningkat sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar hipnosis memberikan definisi hipnosis sebagai:&lt;br /&gt;1. Hipnosis adalah suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas meningkat sangat tinggi&lt;br /&gt;2. Hipnosis adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak&lt;br /&gt;3. Hipnosis adalah seni eksplorasi alam bawah sadar&lt;br /&gt;4. Hipnosis adalah kondisi kesadaran yang meningkat&lt;br /&gt;5. Hipnosis adalah suatu kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dengan menggunakan hipnosis. Umumnya orang hanya mengenal hipnosis seperti yang ditayangkan oleh stasiun televisi, yaitu hipnosis untuk hiburan. Apakah hipnosis hanya bisa untuk acara hiburan ? Tentu tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah jenis hipnosis dan manfaatnya:&lt;br /&gt;1. Stage Hypnosis. Stage hypnosis adalah hipnosis yang digunakan untuk pertunjukan hiburan.&lt;br /&gt;2. Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy adalah aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan masalah mental dan fisik (psikosomatis). Aplikasi dalam pengobatan penyakit antara lain: depresi, kecemasan, phobia, stress, penyimpangan perilaku, mual dan muntah, melahirkan, penyakit kulit, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;3. Anodyne Awareness. Anodyne Awareness adalah aplikasi hipnosis untuk mengurangi rasa sakit fisik dan kecemasan.&lt;br /&gt;4. Forensic Hypnosis. Forensic Hypnosis adalah penggunaan hipnosis sebagai alat bantu dalam melakukan investigasi atau penggalian informasi dari memori.&lt;br /&gt;5. Metaphysical Hypnosis. Metaphysical Hypnosis adalah aplikasi hipnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik. Jenis hipnosis ini bersifat ekperimental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menjelaskan lebih banyak lagi mengenai hipnosis pada artikel mendatang.&lt;br /&gt;Dalam setiap kesempatan saya memberikan workshop hipnosis selalu muncul pertanyaan, "Apa hubungan hipnosis dengan mahluk halus?", "Gendam itu jenis hipnosis yang mana?" Saya berusaha menerangkan bahwa sebenarnya hipnosis itu murni seni komunikasi dan tidak ada hubungannya dengan mahluk halus. Sambil guyon saya berkata, "Hipnosis memang ada hubungannya dengan mahluk halus bila yang menghipnosis anda adalah seorang wanita yang cantik, berkulit mulus, dan tutur katanya halus. Jadi benar itu mahluk halus."&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana dengan gendam? Bukankah ada banyak contoh kasus di mana seseorang ditelpon, katanya ia dapat hadiah, dan diminta menyetor sejumlah uang ke rekening tertentu, lha…. koq mau? Itu pasti kena gendam," kejar si penanya. Benarkah demikian? Untuk menjelaskan fenomena ini saya akan membahas mengenai cara kerja pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mempunyai dua jenis pikiran yang bekerja secara simultan dan saling mempengaruhi, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Besarnya pengaruh pikiran sadar terhadap seluruh aspek kehidupan seseorang, misalnya sikap, kepribadian, perilaku, kebiasaan, cara pikir, dan kondisi mental seseorang hanya 12%. Sedangkan besarnya pengaruh pikiran bawah sadar adalah 88%. Untuk mudahnya kita bulatkan menjadi 10% dan 90%. Dari sini dapat kita ketahui bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan diri kita 9 kali lebih kuat dibandingkan pikiran sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tertipu sebenarnya adalah orang yang tidak dapat berpikir jernih karena telah dikendalikan oleh emosinya. Dalam contoh kasus di atas, emosi yang bermain atau lebih tepatnya "dipermainkan" adalah fear (rasa takut) dan greed (keserakahan). Saat seseorang ditelpon dan diberi tahu bila ia mendapatkan hadiah, misalnya mobil, maka ia akan kaget, senang, dan sudah tentu tidak mau/takut kehilangan "hadiah" utama. Si penelpon biasanya memberikan waktu yang sangat mepet agar korban segera mentransfer sejumlah uang. Korban sengaja didesak sehingga terburu-buru, tidak dapat berpikir jernih, dan dikuasai oleh emosinya. Jadilah si korban mentransfer uangnya dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa korban tidak dapat berpikir jernih? Ya itu tadi. Emotion overides logic. Saat emosi sedang "tinggi" maka kemampuan berpikir logis akan "rendah". Dan emosi itu terletak di pikiran bawah sadar, yang kekuatannya 9 kali lebih kuat dari pada pikiran sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuatnya pengaruh emosi terhadap proses berpikir logis juga didukung oleh hasil penelitian oleh para neuro-scientist yang meneliti otak manusia. Dari penelitian mereka diketahui bahwa serabut saraf yang keluar dari sistem limbic (otak mamalia, bagian otak yang menangani emosi) menuju ke cortex (bagian otak yang menangani proses berpikir) jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan arah sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda akan bertanya, "Kalau begitu, apakah ada cara untuk bisa mengendalikan emosi kita sehingga kita dapat berpikir jernih tanpa dipengaruhi oleh emosi?" Jawabnya ada. Saya biasa menggunakan dan mengajarkan teknik berpikir Transformational Thinking. Teknik ini membuat seseorang mampu berpikir tanpa melibatkan emosi. Teknik lain adalah dengan meningkatkan level kesadaran. Caranya melatihnya? Kita belajar mengamati pikiran kita. Kita harus mengendalikan dan menguasai pikiran kita sehingga saat pikiran bawah sadar mengirim "sinyal" maka kita akan langsung tahu. Pikiran dilatih dan menjadi kuat dengan membuatnya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK. Sekarang kembali ke topik hipnosis. Apakah setiap orang bisa dihipnosis? Bisa. Tidak ada satupun orang yang tidak bisa dihipnosis. Secara umum manusia terbagi menjadi tiga kategori, dilihat dari tingkat sugestibilitas, yaitu 5% yang sulit, 10% yang mudah, dan 85% yang moderat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan stage hypnosis, hipnotis akan mencari subyek yang masuk kategori 10%, yang mudah sekali dihipnosis. Akan sangat tidak lucu bila yang dipilih adalah yang 5%, yang sulit dihipnosis.&lt;br /&gt;Syarat utama agar dapat dihipnosis adalah subyek (orang yang dihipnosis) harus bersedia untuk dihipnosis. Bila subyek menolak maka hipnotis tidak akan mampu menghipnosis. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Saat hipnotis melakukan hipnosis, yang terjadi adalah si hipnotis mem-by-pass pikiran sadar subyek dan langsung berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar subyek. By pass di sini jangan salah dimengerti sebagai suatu bentuk manipulasi. By pass maksudnya adalah pikiran sadar subyek dibuat sibuk, lengah, bosan, bingung atau lelah sehingga pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar, yaitu RAS (Reticular Activating System) terbuka atau tidak terjaga dengan baik. Karena RAS terbuka atau pengawasannya lemah maka si hipnotis akan dengan mudah menjangkau pikiran bawah sadar. Apabila subyek merasa takut, tidak suka, khawatir, atau tidak percaya pada hipnotis, maka proses hipnosis akan menjadi sangat sulit karena RAS akan terkunci rapat. Dalam kondisi ini hipnotis akan sulit sekali menjangkau dan berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sama dari subyek sangat dibutuhkan agar proses hipnosis dapat berlangsung dengan mudah dan lancar. Mengapa? Karena semua proses hipnosis sebenarnya adalah self-hypnosis. Dikatakan self-hypnosis karena seorang hipnotis sebenarnya hanya berperan sebagai fasilitator atau operator. Subyek menghipnosis dirinya sendiri dengan mengikuti instruksi yang diberikan oleh hipnotis. Bila subyek menolak dengan cara tidak bersedia mengikuti instruksi maka hipnosis tidak akan bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hipnotis yang ahli tentu mempunyai sangat banyak cara untuk bisa menjangkau pikiran bawah sadar subyeknya. Cara untuk menjangkau pikiran bawah sadar ini dinamakan induksi. Ada sangat banyak cara melakukan induksi. Dari semua cara itu, bila dicermati, akan tampak suatu pola umum. Pola umum ini membagi teknik induksi menjadi enam kategori. Para pakar biasanya menggabungkan beberapa pola induksi menjadi satu pola baru. Ada teknik induksi untuk orang yang mudah dihipnosis.Ada yang untuk yang moderat. Dan ada yang untuk orang yang sulit dihipnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang hipnotis yang handal diperlukan beberapa syarat utama, antara lain konsep diri positip, rasa percaya diri yang tinggi, memahami cara kerja pikiran, kemampuan komunikasi verbal dan non verbal yang baik, kreatif, dan menguasai ilmu hipnosis dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pertanyaannya sekarang adalah, "Di mana saya dapat belajar ilmu hipnosis?" Ini satu pertanyaan yang sangat bagus. Saat ini ada banyak orang atau lembaga yang melakukan loka karya hipnosis. Ada yang memasang harga yang murah sampai harga yang cukup mahal. Terlepas dari berapa harga yang dipasang untuk loka karya hipnosis, yang harus benar-benar diperhatikan adalah siapa yang mengajar di loka karya hipnosis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instruktur yang mengajar mempunyai pengaruh yang sangat penting. Bila anda belajar pada orang yang salah, yang hanya mengerti sedikit namun telah berani mengadakan loka karya, maka anda akan membuang uang, waktu, pikiran, dan tenaga karena telah salah belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dapat bercerita seperti ini karena pengalaman pribadi. Sebelum mendalami hipnosis, dengan mengikuti loka karya, saya banyak membaca buku-buku hipnosis yang ada di toko buku. Semakin saya membaca maka semakin bingung saya jadinya. Saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti loka karya yang diselenggarakan oleh beberapa pakar hipnosis. Ada pakar dari dalam negeri maupun yang dari luar negeri, sudah tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Dari mereka akhirnya saya mendapat pemahaman yang benar mengenai apa itu hipnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya mendalami sendiri dengan banyak membeli buku dari luar negeri dan tentu saja banyak praktik.&lt;br /&gt;Untuk mendalami hipnosis dan melakukan stage hypnosis bukanlah sesuatu yang sulit. Namun untuk melakukan hypnotherapy, ini anda harus hati-hati. Aplikasi hipnosis dalam terapi memerlukan pengetahuan yang lebih dalam. Belajar di loka karya saja belum cukup. Kita masih harus mendalami dari berbagai sumber lainnya.&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya mendapat cerita dari seorang kawan mengenai suatu lembaga yang menyelenggarakan loka karya hypnotherapy. Ternyata apa yang diajarkan sangat keliru. Dari cerita kawan saya ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya teknik terapi yang diajarkan di loka karya tersebut, kalau di Amerika, masuk dalam kategori malpraktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sengaja menceritakan hal ini tidak bertujuan mendiskreditkan suatu lembaga atau pribadi tertentu. Saya ingin agar kita semua berhati-hati agar kita dapat belajar dari sumber yang benar dan kompeten agar ilmu hipnosis dapat dikuasi dengan benar dan dapat dimanfaatkan untuk kemajuan kita bersama.&lt;br /&gt;Bagi pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang hipnosis anda dapat membaca buku saya yang beredar bulan Oktober 2005 yang berjudul &lt;em&gt;Hypnosis – The Art of Subconscious Communication.&lt;/em&gt; (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;em&gt;Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success dan Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113402600833403702?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113402600833403702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113402600833403702' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113402600833403702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113402600833403702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/hypnosis-art-of-subconscious.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19377199.post-113401634728187883</id><published>2005-12-08T11:23:00.000+07:00</published><updated>2005-12-08T11:38:45.983+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Becoming a Great Teacher &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adi W Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mediocre teacher tells Good teacher explains Superior teacher demonstrates Great teacher inspires&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;William A. Ward&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu saya ke Jakarta mengikuti peluncuran buku The 8th Habit karya DR. Stephen R. Covey. Satu hal menarik yang disampaikan oleh Covey adalah, "I am more a teacher than a speaker". Intisari dari buku Covey yang paling anyar ini adalah bagaimana kita bisa menemukan tujuan hidup kita dan selanjutnya membantu orang lain melakukan hal yang sama. Atau dalam bahasa Covey, "Find your inner voice and inspire others to find theirs". Hal lain yang sangat berkesan yang saya dapatkan dari seminar ini adalah saat Covey berkata, "Leadership is communicating people’s worth and potential so clearly that they are inspired to see it in themselves". Wow….. satu statement yang begitu indah dan luar biasa yang membuat saya sangat terinspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Covey mengatakan bahwa ia lebih sebagai seorang guru dari pada pembicara? Saat Covey mengucapkan statement ini saya langsung teringat pada kata-kata bijak William A. Ward di atas. Covey adalah seorang Great Teacher karena ia mampu menginspirasi orang lain. Saat itu juga saya teringat apa yang baru-baru ini saya lakukan dengan seorang murid SMU yang mengalami "masalah". Anda jangan salah mengerti. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya ini sama seperti Covey. Yang ingin saya sampaikan adalah saya sangat senang karena apa yang saya lakukan telah sejalan dengan inspirasi yang saya dapatkan dari Covey. Dan jika saya bisa maka anda juga pasti bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini saya diminta membantu anak SMU kelas 1, sebut saja Budi, yang menurut orangtua dan sekolahnya, adalah anak bermasalah. Saat pertama kali bertemu, Budi datang bersama ayahnya. Lebih tepatnya, ayah Budi membawa anaknya bertemu saya. Setelah ngobrol santai beberapa saat, saya melihat apa yang sebenarnya menjadi duduk persoalan. Yang pertama, Budi tidak mempunyai figur yang bisa menjadi idola atau panutan hidupnya sehingga ia sama sekali tidak tahu mau menjadi seperti siapa (diri ideal). Kedua, Budi memandang dirinya sebagai anak yang bermasalah dan gagal di sekolah karena orangtua dan sekolah memandang dirinya seperti itu (Citra Diri). Ketiga, Budi tidak tahu apa gunanya ia sekolah. Ia tidak tahu tujuan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan anak muda, penampilan Budi agak berantakan. Telinga kirinya "ditindik". Baju yang dipakainya saat itu jauh dari rapi dan celana panjangnya adalah celana jean yang di bagian paha depan, kiri dan kanan, robek (modelnya memang seperti itu). Selain itu Budi datang dengan menggunakan sandal. Setelah selesai berdiskusi saya meminta Budi, untuk sesi konseling selanjutnya, datang sendiri namun dengan satu syarat. Saya minta ia untuk mengubah penampilannya. Bila ia tidak mau maka saya tidak akan memberikan waktu saya. Saya minta Budi untuk berpakaian rapi, pakai celana dari bahan kain, bukan jean, tidak boleh ada tindikan di telinganya, pakai jam tangan, ada pen di kantong bajunya, dan harus pakai sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya "memaksa" Budi untuk melakukan hal ini? Saya ingin mengetahui seberapa besar keinginannya untuk berubah. Apakah ia bersedia membayar harga untuk itu? Apakah ia bersedia keluar dari zona kenyamanannya? Hal paling penting adalah saya ingin mengubah cara ia memandang dirinya, dari no-body menjadi some body. Langkah paling mudah, sebelum saya membantu Budi dari dalam (mental) adalah dengan mengubah penampilan luarnya. Ini ada hubungannya dengan Citra Diri. Dan ini adalah bagian dari terapi yang akan saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Saat pertemua kedua, Budi datang sendiri dengan penampilan yang berubah total. Saya memuji perubahan dirinya. Setelah aspek luarnya diobok-obok, kini saya masuk ke aspek mentalnya. Sejak dari awal saya telah memandang dirinya sebagai seorang pemenang. Saya menyampaikan hal ini secara terbuka. Saya tahu ia tidak atau belum percaya pada dirinya. Dan saya juga tahu bahwa saya bisa membuat ia percaya apa yang saya katakan. Mengapa? Ingat prinsip kerja pikiran bawah sadar di artikel saya sebelumnya? Saya tahu Budi memandang saya sebagai orang yang memiliki otoritas. Jadi apa yang saya lakukan? Saya memanfaatkan pengetahuan saya tentang cara kerja pikiran, masuk ke pikiran bawah sadarnya, dan menanam bibit-bibit pikiran positif. Saya melakukannya berkali-kali (repetisi), dengan memainkan emosinya, baik yang positif maupun yang negatif, sehingga bibit-bibit pikiran itu tertanam sangat dalam di pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi lalu menunjukkan rapor sisipan yang baru ia terima. Hasilnya? Luar biasa. Gurunya ternyata kehabisan tinta biru sehingga "terpaksa" menulis nilai ujiannya dengan tinta merah. Setelah saya amati saya menemukan satu hal menarik. Meskipun hampir semua nilainya "kebakaran" namun ada dua nilai dari dua bidang studi yang pernah mendapatkan nilai sangat tinggi, yaitu Fisika 98 dan Sosiologi 93.&lt;br /&gt;Saya lalu bertanya, "Bud, jawab jujur! Nilai Fisika dan Sosiologi ini apakah benar-benar nilai yang kamu capai sendiri atau kamu nyontek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya capai sendiri Pak," jawab Budi tegas.&lt;br /&gt;Saya tahu bahwa ini jawaban jujur dengan membaca bahasa tubuhnya. "Ok. Kalau begitu, jawaban kamu membenarkan keyakinan saya terhadap dirimu. Saya tahu kamu anak cerdas dan mampu. Nilai merah di rapormu itu sebenarnya bukan karena kamu tidak mampu tapi karena kamu tidak belajar. Benar seperti itu?" tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar Pak," jawab Budi sambil menundukkan kepala.&lt;br /&gt;Bud, kalau bicara dengan saya, saya mau kamu bicara dengan kepala tegak dan menatap mata saya," perintah saya. "Kamu tidak mau belajar karena kamu merasa bahwa sekolah sebenarnya tidak ada gunanya bagi kamu. Apa benar seperti itu pemikiranmu?" kejar saya lagi.&lt;br /&gt;"Benar Pak," jawab Budi sambil menatap saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi selanjutnya bercerita bahwa ia telah diskors selama 1 minggu dan akan dikeluarkan oleh sekolah. Ia ingin pindah ke sekolah lain dan ia berjanji akan berubah bila ia telah pindah sekolah. Mendengar cerita ini saya lalu berkata, "Bud, kalau kamu mau belajar dari saya, maka yang pertama harus kamu mengerti adalah kita harus melakukan segala sesuatu dengan alasan yang benar dan dengan rasa bangga. Jangan mau dikeluarkan. Ini sungguh memalukan. Kalau kamu dikeluarkan maka hal ini sama dengan kamu diusir karena kamu dianggap sebagai pesakitan atau kriminal. Apalagi dengan nilai yang jelek. Kalau mau, kamu yang memutuskan keluar dari sekolahmu. Tapi nanti setelah naik kelas 2. Kamu pindah sekolah tapi dengan nilai rapor yang tinggi, kalau perlu kamu masuk 5 besar di kelasmu. Saat itu sekolahmu akan memohon-mohon kamu untuk tidak pindah karena akan kehilangan murid cerdas. Nah, kalau kamu pindah saat itu, kamu pindah atau keluar dari sekolah dengan dada yang busung, bangga dan gagah. Kamu mengerti hal ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Pak," jawab Budi.&lt;br /&gt;Selanjutnya saya berkata, "Bud, saya melihat dirimu seperti seorang burung elang yang mampu terbang sangat tinggi. Kamu bukan ayam. Ayam matinya karena dipotong. Elang matinya karena usia tua setelah terbang tinggi menjelajahi dunia. Kamu adalah elang, bukan ayam. Jangan pernah mau menjadi seekor ayam. Saya bersedia membantu kamu karena saya melihat kamu sebagai seekor elang. Saya hanya mau melatih elang. Saya tidak pernah mau repot dengan ayam.Tahu mengapa? Karena ayam memang nggak bisa terbang tinggi. Kalau selama ini sekolah, guru, dan kepala sekolahmu memadang kamu seperti ayam, ini karena mereka tidak tahu siapa diri kamu yang sesungguhnya. Mari kita buktikan pada mereka siapa kamu sesungguhnya. Kamu adalah seekor elang. Masuk 5 besar di kelasmu itu sangat mudah. Kamu punya kemampuan untuk itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat ia agak bingung setelah mendengar cerita saya. Kemudian ia berkata, "Jujur Pak, baru kali ini ada orang yang bicara seperti ini pada saya. Biasanya saya hanya ditegur, dimarahi, dihukum, dan dikucilkan karena dianggap anak nakal dan membuat masalah untuk sekolah. Guru BP saya tidak pernah bicara seperti ini pada saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa cukup dengan "programming", saya lalu memberikan gambaran akan masa depan yang bisa ia capai. Kemungkinan-kemungkinan yang bisa ia pilih dalam hidupnya. Saat itu ia mulai terlihat semangat. Ia mulai bisa melihat hubungan antara sekolah dan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya membantu Budi menyusun goal atau target pembelajaran. Berapa nilai yang akan ia capai untuk tiap mata pelajaran. Mengapa ia perlu mencapai target itu. Mengapa ia bisa mencapainya. Bagaimana ia mengatur dirinya dengan lebih baik sehingga waktu yang ada dapat digunakan secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Saya lalu menjelaskan bahwa semua bidang studi yang diajarkan di sekolah sebenarnya masuk dalam 4 kategori yaitu kategori bahasa, konsep, kombinasi, dan hapalan. Yang masuk kategori bahasa misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris. Kategori konsep contohnya matematika. Kategori kombinasi contohnya Fisika, Kimia, dan Akuntansi. Hapalan contohnya Biologi, Sosiologi, dan Sejarah. Setiap kategori menuntut strategi belajar yang berbeda. Saya lalu mengajarkan cara belajar yang benar untuk masing-masing kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya mengajarkan strategi untuk mengerjakan ujian. Mengapa? Karena setiap tipe soal menuntut cara mengerjakan yang berbeda. Misalnya tes multiple choice, esai, menjawab singkat atau melengkapi, soal cerita, tes jawaban pasti atau soal objektif, dan performans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi berkata, "Sekolah saya nggak pernah mengajarkan seperti yang Bapak ajarkan pada saya. Saya baru tahu kalau setiap mata pelajaran menuntut strategi belajar yang berbeda."&lt;br /&gt;"Bukan hanya sekolahmu saja yang nggak pernah melakukan hal ini. Hampir semua sekolah sama sekali tidak pernah mengajarkan murid-murid mereka cara belajar yang benar," jawab saya.&lt;br /&gt;Budi pulang dengan antusiasme baru. Ia berjanji akan memberikan laporan mengenai hasil ujian yang ia capai. Dari guru lesnya saya mendapat kabar bahwa Budi telah berubah. Sikap, semangat, dan cara pandangnya terhadap dirinya telah berubah. Ia lebih fokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya bangga? Sudah tentu. Berapa saya dibayar untuk sesi konseling ini? Orangtuanya memaksa saya untuk menetapkan fee. Saya menolak. Saya lebih suka menggunakan pendekatan NATO alias No Angpao Thanks Only. Mengapa saya mau melakukan ini? Karena saya melihat orangtuanya serius ingin membantu anaknya berubah. Jika orangtuanya tidak serius atau ogah-ogahan maka saya pasti akan menetapkan harga yang tinggi untuk "memaksa" orangtuanya melakukan apa yang saya minta mereka lakukan. Orangtua Budi, khususnya ayahnya, bersedia melakukan apa yang saya minta sebagai dukungan pada anaknya dalam menjalani proses transformasi diri. Keseriusan orangtua Budi dalam hal ini sudah merupakan bayaran bagi saya dan ini tidak bisa dinilai dengan rupiah. Mengapa? Karena saya yakin, saat Budi bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cakap dan berhasil, maka ia akan dapat menjalani suatu kehidupan yang bermakna tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga untuk keluarganya, dan masyarakat. Ingat pesan Covey , "Find your inner voice and inspire others to find theirs."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;em&gt;Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19377199-113401634728187883?l=universitaskehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/feeds/113401634728187883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19377199&amp;postID=113401634728187883' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113401634728187883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19377199/posts/default/113401634728187883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://universitaskehidupan.blogspot.com/2005/12/becoming-great-teacher-adi-w-gunawan.html' title=''/><author><name>Ade Asep Syarifuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09187695512420008336</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/5561/1916/1600/Asep2.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
